Minggu, 01 Juni 2014

Cinta dalam Religiusitas Gus Mus

Munawir Aziz *
Suara Karya, 9 Nov 2013

MEMBACA sajak-sajak KH Musthofa Bisri (Gus Mus) adalah seperti menyelam dalam kejernihan batin. Sajak-sajak Gus Mus merefleksikan kedalaman jiwa, olah rasa dan refleksi atas kondisi sosial yang jadi sengkarut hidup umat manusia. Sajak Gus Mus sering dianggap “balsem”, dapat menyengat untuk menawarkan panas di tubuh dan telinga, sekaligus mencipta ketenangan. Sajak-sajak balsem karya Gus Mus ringan ditelinga dan sedap dibaca, meski menusuk dalam kelembutan batin. Itulah, sajak-sajak yang ia tulis dengan cinta.


Sepanjang karirnya sebagai penyair, Gus Mus sangat peduli dengan tema-tema religiusitas dan cinta. Sajak-sajaknya menjadi cermin bening bagi umat manusia yang ingin mencari bahkan apa yang selama ini menjadi perjalanan panjang untuk menemukan cinta, menemu kebahagiaan. Gus Mus mengusap kata, menulis, dan merenungkan hakikat dengan ketenangan batin dan kejernihan hati.

Bagi Gus Mus Sang Kiai, sastrawan, pelukis, budayawan, dan seabgreg sebutan lain mendedikasikan sajaknya untuk semua, tanpa sekat agama, etnis, kebudayaan bahkan watak manusia. Sajak Gus Mus menyelam dalam, menelusup pada ruang yang sering menjadi wadah kedengkian, sajak yang ditulis dengan hati.

Gus Mus, salah satu sastrawan penting yang lahir dari pesantren. Ia lahir di Rembang, pada 10 Agustus 1944, dari keluarga penulis dan pengasuh pesantren. Ziarah keilmuan dari pesantren ke pesantren, serta renungan terhadap kemanusiaan menjadikan sajaknya mengalunkan ritme tentang kisah-kisah manusia. Selama 1991-2002, Gus Mus telah menulis beberapa buku: Ohoi (1991), Tadarus (1993), Pahlawan dan Tikus (1995), Rubayat Angin dan Rumput (1995), Wekwekwek: Sajak-sajak Bumilangit (1996), Negeri Daging (2002), dan Gandrung (2005). Tentu saja, esai-esainya yang bernas juga selalu ditunggu pembaca.

Bagi Gus Mus, cinta akan menjadi sesuatu yang sederhana, namun mewakili perasaan: kepercayaan dan bahasa hati. Cinta tidak diwakili oleh bujuk rayuan, hadiah mewah ataupun citra artifisial yang lain. Cinta mewujud dalam sikap dan keteguhan batin untuk saling mengisi perasaan. Sajak Gus Mus berjudul “Hanin”, merefleksikan cinta yang sederhana: mestinya malam ini/ bisa sangat istimewa/ seperti dalam mimpi-mimpiku/ selama ini. kekasih, jemputlah aku/ kekasih, sambutlah aku/ aku akan menceritakan kerinduanku/ dengan kata-kata biasa/ dan kau cukup tersenyum memahami deritakulalu kuletakkan kepalaku yang penat/ di haribaanmu yang hangat/ kekasih, tetaplah di sisiku/ kekasih, tataplah mataku. tapi seperti biasa/ sekian banyak yang ingin kukatakan tak terkatakan/ sekian banyak yang ingin kuadukan/ diambilalih oleh airmataku/ kekasih, dengarlah dadaku/ kekasih, bacalah airmataku/ malam ini belum juga/ seperti mimpi-mimpiku/ selama ini.

Rindu, sesuatu yang berkawan akrab dengan cinta, hadir mewakili malam. Ia tergopoh-gopoh untuk menyapa malam, namun sengaja menjauh dari siang. Sebab malam, yang selalu sunyi dan menyendiri, menjadi ruang kontemplasi batin paling efektif untuk mencari jejak sebenarnya tentang makna cinta: malam ini/ lagi-lagi kau biarkan sepimewakilimu. Cinta dan malam, kadang kala hanya menghadirkan sepi.

Sajak “Hanin” Gus Mus, menjelma sebagai puisi cinta yang hangat sekaligus ramah. Puisi ini tak hanya mencipta rasa tenang, namun juga menjadi pertautan hati antar hati untuk senantiasa saling mengisi.

Pertautan makna antar hati yang dinarasikan dalam sajak-sajak cinta Gus Mus, tentu saja menjadi hikmah berharga bagi siapa saja yang berusaha menyesapnya untuk mengais makna dari apa yang paling dicari oleh manusia: kebahagiaan. Dan, cinta serta cita, yang menuntun manusia untuk menjemput hasratnya dengan dua jalan lempang: kebaikan dan kedhaifan meski hasratku tak tertahankan/ meski semua pintu kau bukakan/ meski semua isyaratmu menjanjikan/ -mengingat kedaifan diri dan lika-liku jalan-/ akankah sampai padamu (Labirin, dalam Gandrung, 2005: 42).

Hasrat, adalah bahasa hati. Ia bagian komunikasi yang dibagun dengan rasa. Lalu, kemudian mencari makna untuk mencipta terang-gelap dalam nuansa cinta.

Sajak-sajak cinta Gus Mus tak berumah pada kekosongan. Ia menjadi jalan menuju pada apa yang menjadi hakikat makhluk: menuju Tuhan. Gus Mus menulis sajak-sajak cinta tidak dibarengi dengan egoisme dan nafsu. Akan tetapi menjadi doa, memantik ingat dan menjelma rasa untuk menjemput hakikat kemanusiaan.

Hakikat kemanusiaan inilah yang didengungkan Gus Mus di pelbagai forum: pengajian, khotbah, diskusi ilmiah, sampai silaturahim antar santri. Gus Mus selalu mengingatkan, agar manusia mencintai sesama, berdasarkan fitrah kemanusiaan. Lalu, cinta membutuhkan renungan, kejernihan batin dan manajemen perasaan agar dapat mencari jalan benar menuju hakikatnya.

Sajak “Kalau Kau Sibuk Kapan Kau Sempat” merefleksikan hal ini:

Kalau kau sibuk bermain cinta saja/ Kapan kau sempat merenungi arti cinta?/ Kalau kau sibuk merenung arti cinta saja/ Kapan kau bercinta?

Ternyata, cinta tak hanya patut direnungi, tetapi dilakukan, dialami. Dengan begitu manusia akan mengerti hakikat sebenarnya dari perasaan dirinya. Apakah menuju jalan yang benar menuju Sang Pencipta, atau hanya dilandasi nafsu membahana. Maka, di sela puisinya, Gus Mus mentransformasikan rasa menuju langit, menuju pintu kesejatian mencari Cahaya Illahi:Kalau kau sibuk berdzikir saja/ Kapan kau sempat menyadari keagungan yang kau dzikiri?/ Kalau kau sibuk dengan keagungan yang kau dzikiri saja/ Kapan kau kan mengenalnya?

Dzikir, sebagaimana cinta, adalah ritual yang dibangun dari perasaan dan kerendahan hati. Sebuah tarekat, atau lorong panjang bagi seorang salik, untuk menemu hakikat sebenarnya dari manusia dan kemanusiaan. Dan, yang sebenarnya, cinta, dzikir ataupun ritual transendental lainnya, tidak dibahasakan dalam egoisme, dalam ungkapan untuk mencari simpati atau pencitraan diri. Sajak “Aku Tak Kan Memperindah Kata-kata”, seolah menempeleng mereka yang cari simpati dengan memainkan citra diri.aku tak kan memperindah kata-katakarena aku hanya ingin menyatakancinta dan kebenaranadakah yang lebih indah daricinta dan kebenaran maka memerlukan kata-kata indah?

Sajak-sajak cinta Gus Mus, serupa cahaya yang mencipta terang hati yang gelap, jiwa-jiwa yang penat. Ia menjadi tadarus bagi malam-malam sunyi. Dengan sajak cintanya, Gus Mus membuktikan bahwa cinta tidak hanya menjadi alasan untuk nafsu, akan tetapi lorong menuju menuju kemuliaan.

*) Munawir Aziz, penulis buku “Dinamika Identitas Orang Pesisiran” (2013), alumnus Center for Religious and Cross Cultural Studies (CRCS), sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM), Jogjakarta.
Dijumput dari: http://cabiklunik.blogspot.com/2013/11/cinta-dalam-religiusitas-gus-mus.html

Tidak ada komentar:

Label

A Rodhi Murtadho A. Aziz Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aa Maulana Abdi Purnomo Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Wachid B.S. Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Zamzam Noor Ach. Sulaiman Achdiar Redy Setiawan Adhitia Armitrianto Adhitya Ramadhan Adi Marsiela Adi Prasetyo Afrizal Malna Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan MN Agunghima Agus B. Harianto Agus Buchori Agus M. Irkham Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Hasan MS Ahmad Ikhwan Susilo Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Rafiq Ahmad Sahal Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Ali Ibnu Anwar Ali Murtadho Alia Swastika Alunk S Tohank Amanda Stevi Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Aning Ayu Kusuma Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Suparyanto Anugrah Gio Pratama Anung Wendyartaka Aprinus Salam Ardi Bramantyo Arie MP Tamba Arief Junianto Arif Bagus Prasetyo Aris Setiawan Arman AZ Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Dudinov Ar Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayung Notonegoro Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Balok Sf Bambang Kariyawan Ys Bambang Kempling Bandung Mawardi Baridul Islam Pr Bayu Agustari Adha Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Boni Dwi Pramudyanto Bonnie Triyana Boy Mihaballo Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman Sudjatmiko Bulqia Mas’ud Bung Tomo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chairul Abshar Chamim Kohari Chandra Johan Chavchay Syaifullah Cover Buku Cucuk Espe D. Dudu AR D. Kemalawati D. Zawawi Imron Dadang Kusnandar Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darmanto Jatman David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Muhtadi Dedy Tri Riyadi Deni Andriana Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dewi Rina Cahyani Dian Dian Hartati Dian Sukarno Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Dino Umahuk Djadjat Sudradjat Djoko Pitono Djoko Saryono Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwi Wiyana Dwicipta E. Syahputra Ebiet G. Ade Eddy Flo Fernando Edi Sembiring Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Ekky Siwabessy Eko Darmoko Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil WE Endah Wahyuningsih Endhiq Anang P Erwin Y. Salim Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faisal Kamandobat Faiz Manshur Fajar Kurnianto Fajar Setiawan Roekminto Fakhrunnas MA Jabbar Farid Gaban Fathan Mubarak Fathurrahman Karyadi Fatkhul Anas Fazar Muhardi Febby Fortinella Rusmoyo Felik K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Fitri Yani Frans Ekodhanto Frans Sartono Franz Kafka Fredric Jameson Friedrich Nietzsche Fuad Anshori Fuska Sani Evani G30S/PKI Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Geger Riyanto Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gibb Gilang Abdul Aziz Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gusti Eka H.B. Jassin Hadi Napster Hadriani Pudjiarti Halim H.D. Hamdy Salad Han Gagas Handoko Adinugroho Happy Ied Mubarak Hardi Hamzah Harfiyah Widiawati Hari Puisi Indonesia (HPI) Hari Santoso Harie Insani Putra Haris del Hakim Haris Priyatna Hary B Kori’un Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Helmi Y Haska Helwatin Najwa Hendra Sugiantoro Hendri R.H Hendry CH Bangun Henry Ismono Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Herie Purwanto Herman Rn Heru CN Heru Joni Putra Hudan Hidayat Hudan Nur I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Nyoman Tingkat I Tito Sianipar Ibnu Wahyudi Icha Rastika Idha Saraswati Ignas Kleden Ignatius Haryanto Ilenk Rembulan Ilham Q Moehiddin Ilham Yusardi Imam Muhtarom Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indira Permanasari Indra Intisa Indra Tjahyadi Indra Tranggono Irfan Budiman Ismi Wahid Istiqamatunnisak Iwan Komindo Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iyut FItra Izzatul Jannah J Anto J.S. Badudu Jafar M. Sidik Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamil Massa Janual Aidi Januardi Husin Javed Paul Syatha Jefri al Malay JJ Kusni JJ Rizal Jo Batara Surya Jodhi Yudono Johan Khoirul Zaman Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Joss Wibisono Jual Buku Paket Hemat Judyane Koz Jusuf AN Karkono Kasnadi Katrin Bandel Kedai Kopi Sastra Kedung Darma Romansha Ken Rahatmi Khairul Amin Khairul Mufid Jr Khoshshol Fairuz Kirana Kejora Koh Young Hun Komang Ira Puspitaningsih Komunitas Deo Gratias Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kritik Sastra Kurniawan Kurniawan Junaedhie Lan Fang Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lela Siti Nurlaila Lidia Mayangsari Lie Charlie Liestyo Ambarwati Khohar Liza Wahyuninto Lukas Adi Prasetyo Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Fadjroel Rachman M. Arman A.Z M. Arwan Hamidi M. Faizi M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S M. Mustafied M. Nahdiansyah Abdi M. Shoim Anwar M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahfud Ikhwan Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Mainteater Bandung Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria Bo Niok Mario F. Lawi Mark Hanusz Marsudi Fitro Wibowo Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Maryati Mashuri Matdon Matroni A. el-Moezany Maya Mustika K. Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri Mezra E. Pellondou MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mihar Harahap Mila Novita Misbahus Surur Muhajir Arrosyid Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Ali Fakih Muhammad Amin Muhammad Antakusuma Muhammad Iqbal Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mulyadi J. Amalik Munawir Aziz Murparsaulian Musdalifah Fachri Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W. Hasyim N. Syamsuddin CH. Haesy Naskah Teater Nazaruddin Azhar Nelson Alwi Nenden Lilis A Neni Nureani Ni Putu Rastiti Nirwan Dewanto Nita Zakiyah Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nur Faizah Nur Syam Nur Wahida Idris Nurani Soyomukti Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurrudien Asyhadie Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurur Rokhmah Bintari Nuryana Asmaudi Odi Shalahuddin Oei Hiem Hwie Okky Madasari Okta Adetya Olivia Kristina Sinaga Otto Sukatno CR Oyos Saroso HN Pablo Neruda Pamusuk Eneste Pandu Radea Parakitri Parulian Scott L. Tobing PDS H.B. Jassin Pengantar Buku Kritik Sastra Pepih Nugraha Pesan Al Quran untuk Sastrawan Petrik Matanasi Pipiet Senja Pitoyo Boedi Setiawan Ponorogo Pramoedya Ananta Toer Pringadi Abdi Surya Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi PuJa Puji Santosa Pungkit Wijaya PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Setia Putu Wijaya R. Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Ragil Supriyatno Samid Rahmat Sudirman Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ramadhan Pohan Rameli Agam Ramon Damora Ranang Aji SP Ratih Kumala Ratna Ajeng Tejomukti Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Reko Alum Reny Sri Ayu Resensi Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rosdiansyah Rukardi S Yoga S. Jai S. Satya Dharma S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabiq Carebesth Sabpri Piliang Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Sal Murgiyanto Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salyaputra Samsudin Adlawi Sandipras Sanggar Pasir Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Saroni Asikin Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Perlawanan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shafwan Hadi Umry Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Irni Nidya Nurfitri Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad St Sularto Sudarmoko Sulaiman Tripa Sultan Yohana Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Suroto Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaiful Amin Syarif Hidayat Santoso Syarifudin Syifa Amori Syifa Aulia Tajuddin Noor Ganie Tantri Pranashinta Tanzil Hernadi Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theo Uheng Koban Uer Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tien Rostini Titian Sandhyati Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjoet Nyak Dhien Toef Jaeger Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tri Wahono Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udin Badruddin Udo Z. Karzi Umar Fauzi Umbu Landu Paranggi Umi Laila Sari Umi Lestari Universitas Indonesia Untung Wahyudi Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W.S. Rendra Wahyu Prasetya Wahyudi Akmaliah Muhammad Wawan Eko Yulianto Wawancara Welly Adi Tirta Widi Wastuti Wiji Thukul Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Y. Thendra BP Yona Primadesi Yosephine Maryati Yosi M Giri Yudhis M. Burhanuddin Yulizar Fadli Yurnaldi Yusri Fajar Yuyuk Sugarman Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zulkarnain Zubairi