Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2013

FAHRUDIN MENOLAK TUNDUK PADA MAUT

Dwi Cipta

Seseorang tak bisa menolak maut saat ia sudah datang dan mengajaknya meninggalkan dunia ini. Namun seseorang bisa melawan paksaan maut saat ia baru mengirim pesan bahwa dirinya akan datang. Beberapa orang di antaranya berhasil. Beberapa yang lainnya gagal. Berhasil atau pun gagal, sepanjang manusia telah melakukan perlawanan sepenuh hati terhadap pesan yang dikirimkan oleh Sang Maut, kita layak memberikan penghargaan padanya.

Sastra Mutakhir Kita

Ni Putu Rastiti
Bali Post, 16 Juni 2013

Ketika sejarah bergulir dari masa kemerdekaan, hingga kini era reformasi, baru satu penulis Indonesia yang menjadi kandidat penerima Nobel. Jika dicermati berdasarkan logika, bukankah seharusnya di zaman yang penuh kebebasan ini lahir penulis-penulis sastra mumpuni dengan karya-karya yang penuh kedalaman.

Agar Pram Tak Jadi Berhala

Damhuri Muhammad
Media Indonesia, 20 Nov 2006

Sudah jamak diketahui, sebagian besar pengagum karya-karya Pramoedya Ananta Toer adalah kalangan anak-anak muda penggila sastra. Tapi kekaguman itu belum disertai kajian kritis dan berimbang terhadap sosok kepengarangannya yang masih tampak bermuka dua itu. Belakangan ini, para pembaca setia itu nyaris tergelincir pada kekaguman yang berlebihan. Kecenderungan ini telah mendedahkan terminologi baru yang disebut Pramisme. Ini cukup berbahaya. Pram bisa saja berubah jadi ‘berhala’ yang selalu dipuja, tanpa cela.

Membudayakan Keberaksaraan

Ali Murtadho *
Lampung Post, 1 Juni 2013

KEHORMATAN orang terpelajar berasal dari buku (Debita ab erudito quoque libris reverentia). Demikian ungkapan yang dikutip Yudi Latif dalam bukunya Menyemai Karakter Bangsa (2009). Charles Jones juga pernah berujar, ?Hari ini Anda adalah orang yang sama dengan lima tahun mendatang, kecuali dua hal: orang-orang di sekeliling Anda dan buku-buku yang Anda baca. Namun, tradisi membaca di Indonesia justru masih tenggelam dalam lubuk kejumudan.

Ideologi Koran Sastra dan Pramoedya

Mulyadi J. Amalik
Sriwijaya Post, 13 Feb 2000

Perdebatan ideologi antara kubu Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dengan kubu Manifes Kebudayaan (Manikebu) tidak bisa dilepaskan dari peran koran atau majalah sastra. Dalam konteks ini, tentu saja koran/majalah pada masa itu (1960-an) yang bersifat partisan terhadap ideologi atau partai tertentu secara tegas.

Pulau Asap

Jefri al Malay
http://www.riaupos.com/

Setelah merasa tidak memiliki apa-apa selain kata-kata, akhirnya kuputuskan saja menulis surat ini padamu, Alifya. Hanya ini yang kubisa. Sedikit banyak, ianya mampu mengobati kerinduan yang tertancap di hati. Serupa pancang yang terpacak menjulang bertahun-tahun di tepian jambat, hanya berteman gelombang pasang surut, arus, terpaan angin, juga kebat tali sampan atau pompong yang melingkarinya. Sesekali singgah juga burung raja udang sekedar menjengah mangsanya kemudian terbang lagi, senyap lagi. Aku risau Alifya, takut kalau-kalau kerinduan itu menjadi usang, lapuk dan rapuh disebabkan terlalu lama meniti waktu yang tak pasti.

Investasi dari Sebuah Amanah

Titian Sandhyati *
http://sastra-indonesia.com

Setitik harapan datang, di saat tanda positif itu muncul. Alhamdulillah, kami dipercayakan amanah sepasang putra-putri nan sehat nun membanggakan. Seorang putra, Yusuf Afif Ramadhan, lahir 9 Desember 2001; seorang putri, Fiddin Afifah Kinanti, lahir 11 Agustus 2006. Sorot mata beningnya, memancar daya positif. Senyuman manis tersimpul di bibirnya, menguatkan asa di setiap langkah.

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com