Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2013

Reproduksi Sastra Dalam Kurikulum 1994

Sutejo *
Karya Darma, 30 Nov 1994

Berlakunya kurikulum bahasa Indonesia 1994 dalam dunia pendidikan kita secara teoritis akan menuansakan warna baru dalam pengajarannya. Di samping alokasi waktu yang lebih besar dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya, juga ditingkatkannya aspek reproduksi sastra yang menekankan pada kemampuan dan bakat siswa untuk melahirkan karya sastra.

Kritikus Sastra Riau, di Mana Persembunyianmu?

Hary B Kori’un
Riau Pos, 26 Nop 2006

ADA anggapan bahwa dunia satra Riau mengalami stagnasi yang hebat saat ini. Krisis karya telah terjadi dan orang-orang yang selama ini bekerja untuk sastra, mulai pelan-pelan beralih ke dunia yang lain. Memang, penghargaan untuk mereka yang bergelut di bidang sastra di Riau, mendapat apresiasi lumayan besar dengan banyaknya penghargaan,

Sastra, Seks dan Kematian

Bayu Agustari Adha *
Riau Pos, 3 Maret 2013

SETELAH terbelenggu sekian lama, akhirnya katub-katub itu terbuka juga. Apa yang dianggap patut dan tak patut kerananya sudah terbuka. Menjelmalah sebuah dunia banal di mana titik pasti kebenaran itu bisa dipertanyakan dan diperdebatkan. Tak ada lagi singgasana superioritas yang bebas berkuasa mewacanakan segalanya. Apapun yang coba dikokohkan akan selalu ada titik baliknya dan celah untuk meruntuhkannya. Fenomena ini hampir menjalar ke segala penjuru lintas persoalan. Politik, ideologi, ekonomi, sosial, seni, budaya telah terecoki dalam kenihilan kemapanan.

Ideologi dan Kesadaran Sastra

Iwan Kurniawan
Media Indonesia, 24 Feb 2013

PENIKMAT karya sastra, khususnya novel, pasti sudah tak asing lagi dengan sebuah novel yang cukup menyita perhatian dunia kesusastraan Indonesia, Atheis, karya Achdiat Karta Mihardja (1911-2010).

Bila membacanya kembali, kita akan mengingat roman yang menggunakan tiga gaya naratif. Tentu saja tokoh utama, Hasan, seorang muslim muda, dibesarkan untuk berpegang pada agama. Namun, Hasan meragukan agamanya sendiri setelah berurusan dengan seorang sahabat penganut Marxisme–Leninisme dan seorang penulis penganut nihilisme.

Sastrawan Itu Unik

Damiri Mahmud
Harian Analisa, 7 Agt 2011

Nada panggil ponsel saya malam menjelang Isya itu saya biarkan berlalu berulang. Saya pernah berkali-kali menjawab panggilan dari nomor yang tidak saya program dan selalu menerima kekecewaan, “Maaf, salah sambung…” jawab saya terbata-bata, ketika yang memanggil di seberang sana langsung menerpa karena menganggap sudah kenal.

Puisi adalah Permainan Filsafat

Alex R. Nainggolan
Suara Karya, 16 Maret 2013

PUISI merupakan sebuah permainan diri, di mana seluruh unsur tubuh bergerak. Sejumlah diksi yang tersusun, lebih layak disebut sebagai kesatuan yang unik. Posisi yang saling berjabat tangan. Maka puisi selalu berhadapan pula dengan filsafat, bagaimana penyair mengembalikan keyakinan, sikap, keraguan, kecemasan, kemarahan, kejengkelan, atau nuansa main-main terhadap hidup.

Dari Tamasya Bahasa ke Refleksi Intelektual

Tjahjono Widijanto
Suara Karya, 9 Maret 2013

PENYAIR Sutardji Cazloum Bachri pada sebuah tulisan Catatan Kebudayaan di Majalah Horison berjudul “Rasa Hormat Maksimal Terhadap Puisi” berseloroh bahwa sastrawan dan karya sastranya bisa dikelompokkan sebagai olahragawan, karena olahraga disamping menyehatkan badan juga bisa menghibur dan menyegarkan jiwa.

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com