Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2013

NTT dalam Sastra Indonesia Modern

Mezra E. Pellondou *
Flores Pos (Ende), 13-15 Feb 2012

Pada suatu seminar saya diminta menjadi narasumber. Panitia menyodorkan tema yang harus saya bahas, yakni “NTT adalah Objek Karya Sastra.” Saya merasa kurang setuju karena tema seperti itu menempatkan NTT dan sastra pada dua posisi saling berseberangan, antara subjek (pegiat sastra) di satu sisi dan NTT di sisi lainnya. Yang satu agresif mengeksploitasi, sementara yang lainnya pasrah, bahkan tanpa sadar dieksploitasi.

Spiritualitas Seks Manusia Jawa

Agunghima *
Suara Merdeka, 6 Agu 2012

Seks dan seksualitas tak bisa dimungkiri dalam pengertian sempit dan luas merupakan bagian penting dalam kehidupan manusia. Karena merupakan naluri dasar manusia, tak mengherankan banyak upaya untuk mempelajari, menganalisis, menyusun buku panduan, atau mengungkap seksualitas lewat karya sastra sejak dulu.

Kidung Jaran Dawuk Antara Hancurit dan Si Mbokne (H)Dancok (Puisi, Posisi dan Oposisi) *

Sabrank Suparno **
sastra-indonesia.com

1.1. Puisi
Antologi puisi tunggal Kidung Jaran Dawuk menyembulkan tanya bagi Tosa Poetra. Mengapa masih menulis puisi? Apa sekedar berniat menggayuh eksistensi keajegan melahirkan karya agar disebut penyair? Atau, memang belum punya pilihan karya dalam bentuk lain? Misal esai atau cerpen. Sedang kadar puisi Kidung Jaran Dawuk belum melompat setapak dari antologi sebelummnya, yakni Jalanan Di Kotaku yang terbit Agustus 2010.

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com