Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2012

Tempat, Non-Tempat: Pergulatan Al-Hallaj dan Nietzsche

Asarpin *
Sastra-indonesia.com

Nietzsche adalah al-Hallaj yang diasingkan orang dalam negerinya. Ia lolos dari tangan para mullah, tapi terjerambab ke tangan para dokter! –Mohammad Iqbal, Javid Namah (Kitab Keabadian), terj.Mohamad Sadikin, Panjimas, 1987, h. 80

Ia seorang sufi, yang dalam riwayat dicatat sebagai yang paling berani, dan karena itu ia dihukum mati. Para periwayat menyebutkan, ia seorang keturunan Persia dari garis kakeknya, tapi tentu saja ia bukan orang Persia tulen, atau orang Arab asli. Ia mungkin seorang hibrid. Tempatnya ada di mana-mana sekaligus tak di mana-mana. Tanah airnya seluas benua.

Perempuan, Sepatu, dan Gender

Sartika Dian Nuraini
Suara Merdeka, 2 Feb 2011

PRIA dan wanita memang berbeda, terutama secara biologis. Saat berurusan dengan sepatu, misalnya, jurang pun terbuka lebar. Mungkin bagi perempuan, sepatu adalah obsesi atau bahkan kanibalisasi.
Ongkos sepatu mahal sekali, tetapi saat uang tak membawa kebahagiaan, sepasang sepatu baru bisa meninggikan derajat keperempuanan.

Satir Imajiner dalam Sastra

Bayu Agustari Adha *
Riau Pos, 14 Okt 2012

PADA tataran tertentu sastra dianggap sebagai suatu refleksi kehidupan seperti apa yang dipandang oleh Plato. Makanya Plato sendiri agak merendahkan sastra karena kalau sastra adalah refleksi maka itu adalah mimesis lapis ketiga. Itu terjadi karena dia menganggap bahwa kehidupan ini adalah suatu refleksi dari ide. Maka dari itu jikalau kehidupan sendiri adalah refleksi dari ide, jadi sastra mengalami dua kali tingkat turunan mimesis.

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com