Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2012

Tertikam Pena

Sabrank Suparno
http://sastra-indonesia.com/

Juli selalu datang tepat waktu. Tak sedetik pun ia terlambat. Entah apa daya talentanya, yang jelas kedatangannya selalu diarak angin. Meski tak pasti bahwa angin adalah kekasih sejatinya, setidaknya angin mempunyai rencana sendiri! Yang benar-benar tau rahasia angin adalah Agus. Ya, Agus. Lelaki berambut ikal dan menyukai warna hijau daun. Beberapa hari ini Agus sibuk menyiapkan megaparty: memasang lampion, penjor, baleho, umbul-umbul, serta aksesoris perias ruangan. Agus sosok perjaka desa yang rutin merayakan ulang tahun kelahiranya.

Surga Ada di Dekatmu

Ahmad Zaini
http://sastra-indonesia.com/

Hamparan kebun kelapa sawit tumbuh hijau di atas tanah milik saudagar kaya raya, Suparman. Puluhan pekerja setiap hari bekerja di kebun lelaki yang sangat disegani penduduk di daerah itu. Sementara sang majikan, Suparman, hanya duduk manis di atas kap mobil mewah yang diparkir di pinggir perkebunan sawit miliknya. Caping melingkar lebar di atas kepalanya separuh menutupi wajahnya yang dipenuhi jambang lebat. Terkadang penampilannya itu sampai mengelabui pekerjanya sendiri dikira pengusaha kepala sawit lain yang ingin bekerja sama dengan Suparman.

Melawan Dehumanisasi Sastra Sutardjian

Hasnan Bachtiar *
http://sastra-indonesia.com/

“Kritik sastra…mencerminkan bukan saja kematangan estetik kita, tetapi juga kejelasan intelektual, kesungguhan moral yang sekaligus mentakrif kemanusiaan kita.” (Azhar Ibrahim Alwee).

SUATU artikulasi estetis yang dituangkan dalam karya sastra bukanlah kata-kata tanpa mutu, karena selalu memiliki kualitas-kualitas makna. Makna hidup, makna dunia, dan makna-makna yang terlahir dari nurani penciptanya. Namun yang jarang disadari adalah, sebagai goresan pena penyair, bahwa syair-syair (termasuk kritik sastra) merupakan ungkapan intelektual. Bila demikian, kata kunci intelektual akan membawa kita kepada dua hal: yang pertama adalah bagaimana konstruksi sosial di balik teks, sedangkan yang kedua adalah untuk tujuan apakah teks tersebut ditulis. Dalam konteks ini, Nurel Javissyarqi yang memperkarakan sastrawan terkemuka Sutardji Calzoum Bachri dan kritikus sastra Ignas Kleden, menarik untuk diapresiasi.

Sekadar Pengantar Suara-suara Kecil yang Memanggil dalam ’’Ribuan Gelas Berisi Teh’’

Ali Ibnu Anwar
Riau Pos, 22 Juli 2012

TELAH sampai sajak sembilu tentang ‘’Ribuan Gelas Berisi Teh’’di tangan saya. Perlu duduk manis untuk memahami organ-organ kata di dalamnya. Mengapa harus ‘’teh’’? Padahal air putih lebih menyehatkan. Atau ‘’Kopi Ribuan Gelas’’ yang banyak disukai penyair untuk menyanding rokok, yang dinilai lebih memudahkan penyair dalam menemukan inspirasi. Tapi penulis justru memilih ‘teh’ yang justru tak pernah tumbuh di tempat penulis. Jelas, itu adalah sebuah pilihan.

Menutup Polemik Kebudayaan…

Sutan Takdir Alisjahbana
http://majalah.tempointeraktif.com/

Berikut ini adalah jawaban untuk tulisan Taufik Abdullah dan Arief Budiman (TEMPO, 24 Mei), Goenawan Mohamad dan Abdurrahman Wahid (TEMPO, 31 Maret), Sutardji Calzoum Bachri dan Umar Kayam (TEMPO, 7 Juni), dan Daoed Joesoef (TEMPO, 14 Juni).

APABILA Taufik Abdullah dalam karangan Kenang, Kenanglah Polemik Kebudayaan menganggap bahwa dalam merumuskan identitas Indonesia dalam Polemik Kebudayaan itu saya adalah ‘anak kandung dari Sumpah Pemuda’, ia meletakkan pertukaran pikiran itu dalam perspektif yang benar. Segala usaha saya seperti menerbitkan Pujangga Baru jelas berpokok pada pikiran Sumpah Pemuda. Pujangga Baru bukan saja berjuang untuk bahasa dan kesusastraan Indonesia, tetapi juga untuk menimbulkan suasana kebudayaan yang melingkupi seluruh Indonesia.

Pendidikan; Prospek Pembentuk Karakter Budaya *

Nurel Javissyarqi **
http://sastra-indonesia.com/

Bismillahirrohmanirrohim, saya awali makalah ini. Sebelumnya maaf pengantarnya panjang, lantaran saya perlu sesuaikan tema yang sudah tertandai. Anggaplah sebab musababnya materi kan tersampaikan atau asbabul wurud, demi dapati pijakan realitas kata-kata nan terwedar. Kebetulan saya tengah hijrah di bumi Reog, memang tak jauh dari tanah kelahiran Lamongan yang kini terpijak, ibu pertiwi jiwa-raga ini. Tetapi bagaimana pun suasana hijrah taklah menyenangkan, ada rindu mungkin sedalam kerinduan para muhajir ke tanah suci, seperti mendamba surga di bawah telapak kaki ibu.

Etos dan Sastra, mengenang Andries Teeuw (1921-2012)

Bandung Mawardi *
_Radar Surabaya, 29 Juli 2012

SASTRA modern di Indonesia turut disemaikan oleh seorang sarjana mumpuni asal Belanda: Andries Teeuw (21 Agustus 1921-18 Mei 2012). Tokoh ini mengamalkan ilmu untuk menggerakkan studi sastra Indonesia. Buku-buku dihadirkan sebagai rujukan mempelajari sastra: Pokok dan Tokoh dalam Kesusastraan Indonesia Baru (1952), Tergantung Pada Kata (1980), Sastra Baru Indonesia (1980), Khazanah Sastra Indonesia (1982), Sastra dan Ilmu Sastra (1984). Kita mendapati buku-buku itu sebagai pemicu kajian sastra di kalangan akademik dan umum.A Teeuw telah memberi diri demi selebrasi literasi di Indonesia

Sastrawan NTT, Siapakah Engkau?

(Membahas Buku Mengenal Sastra dan Sastrawan NTT)
Theo Uheng Koban Uer *
Flores Pos (Ende) 7 Juli 2012

Seorang seniman, dalam hal ini, seorang sastrawan, berkreasi untuk memperlihatkan hidup dalam artinya yang semesta dan kekal. Mereka membukakan nilai-nilai dalam keragamannya yang tidak terhitung. Mereka menimbulkan ngeri dengan yang mengerikan dan membikin orang bersorak dengan yang menggirangkan. Mereka membanjiri perasaan-perasaan yang mendesak dari kenyataan-kenyataan, mengayakan pandangan hidup orang, mempengaruhi dalam keyakinan dan sikap susila seseorang.

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com