Sabtu, 24 Desember 2011

Puan Tanjung

Muhammad Amin
http://www.lampungpost.com/

AKAN kurampungkan kisah ini lebih cepat karena memang aku bukan Syahrazad. Dan aku bukan pula seorang pelaut dalam dongeng pengembaraan Simbad. Aku hanya pelaut yang mendadak kehilangan selera hidup setelah apa yang tak pernah kuangan-angankan (pun kuingin-inginkan) datang kemudian berlalu begitu saja.

Sore itu, seusai mengeja kabar yang dibawa sekawanan camar dan kelepak elang laut perut putih yang muncul dari balik cakrawala, dan setelah genap angin barat mereda, kami pun mulai berkemas untuk kemudian bergegas. Berjalan di atas dermaga yang sepanjang waktu termangu, naik ke geladak dan mulai mengembangkan layar.

Jika diriku yang dulu, sebagai pelaut sejati, tak pernah betah berlama-lama menjejakkan kaki di daratan, kini kakiku terasa tertanam di darat. Lekat dan berat. Karena aku telah menyemai rindu yang menanamnya di dada seorang perempuan.

Ia tinggal berdua dengan ibunya yang sudah renta dan kerap sakit-sakitan di sebuah gubuk kecil dekat pantai. Ia dengan tekun mengurus orang tua satu-satunya itu. Kudengar dari cerita tetangganya, ayahnya seorang pelaut, sudah mati dipulun gelombang diterkam badai puluhan tahun lalu ketika ia masih kanak.

Ketika kami merapat, perempuan itu tiba-tiba sudah berdiri di mulut dermaga dengan mata berbinar-bercahaya. Seolah seseorang yang telah lama dinantinya telah tiba. Dan aku terlambat menyadari bahwa perempuan itu sesungguhnya menanti kedatanganku. Aku tak cukup mengerti untuk menjawab segala tanya, baik yang terlontar dari mulut kawan-kawanku maupun yang muncul dari dalam benakku.

Tiba-tiba saja perempuan itu menyambutku dengan penuh sukacita. Aku mulai curiga, apakah aku pernah mengenalnya? Apakah aku seseorang dari masa lalunya dan ia seorang dari masa laluku? Tapi tanya itu tak kunjung menemu jawaban. Perempuan itu seolah hadir begitu saja dalam diriku. Tanpa basa-basi. Tanpa kompromi. Dia sudah ada begitu saja.

Namun, kemudian dengan sendirinya aku larut dalam hidupnya. Seperti ia yang dengan sengaja melarutkan diri dalam hidupku. Tiba-tiba saja kami seolah memiliki ikatan. Tanpa kusadari benar, tanpa terlihat. Lama-lama aku tak lagi memasalahkannya. Barangkali aku memang seseorang dari masa lalunya dan ia seseorang dari masa laluku. Tak perlu kuungkit dan kupertanyakan lagi. Apalagi di hadapannya.

Menyambutku di tubir dermaga ia mengajakku pulang ke rumahnya. Sementara kawan-kawanku mencari penginapan. Tiba di gubuk kecil itu kembali aku merasa gamang, tak menemukan cara harus berbuat apa dan bagaimana. Aku tetaplah merasa sebagai pelaut yang tak sengaja menyinggahi tempat asing ini. Di dalam gubuk kecil itu, sang ibu yang tampak layu karena tubuh rentanya disarangi penyakit mendadak berubah wajahnya menjadi berbinar ketika mendapati kehadiranku.

“Sudah pulang kau rupanya, Nak. Kami di sini selalu menantimu dengan doa dan air mata, mengharapkan keselamatanku.” Aku agak tergeragap. Sebisa mungkin kukuasai diriku. Perempuan yang menyambutku tadi melirikku. Tak tahu harus bagaimana menjawab, aku hanya tersenyum. Mungkin saja terlihat janggal. Tapi mereka tak sedikitpun menangkap kejanggalan pada diriku.

Perempuan itu sangat baik dan perhatian kepadaku. Berhari-hari kami hidup bersama. Aku menjadi bagian darinya dan ia menjadi bagian dariku. Segala yang kubutuhkan selalu ada dan terpenuhi. Bahkan yang kurasakan adalah perhatian yang berlebihan terhadapku. Padahal aku kerap berpikir: Siapakah sebenarnya aku dan apa hubunganku dengannya? Dan semakin hari ia semakin perhatian dan melayaniku dengan amat baik.

Ketika suatu waktu kutanyakan kepada tetangganya kenapa ia berbuat demikian terhadapku. Mereka malah balik bertanya, sembari terheran-heran.

“Kenapa kamu bertanya demikian?” aku semakin tak mengerti.

“Bukankah kamu suaminya? Jadi wajar bila ia perhatian dan melayanimu sebagaimana mestinya.”

Suami? Mereka bilang aku suaminya? Kukira mereka pintar mengada-ada. Padahal menikah pun aku belum pernah. Sejak umur belasan tahun aku sudah ikut berlayar dan hingga kini belum sempat memikirkan untuk menikah. Dan sekarang mereka bilang aku adalah seorang suami dari perempuan yang baru pertama kali kutemukan di tempat asing ini?

Ketika kutanyakan kepada tetangga yang lain, jawaban yang kuperoleh sama saja. Akhirnya aku memutuskan untuk tak bertanya-tanya lagi, baik kepada orang lain maupun diriku sendiri. Aku tak perlu mempermasalahkan lagi, itu keputusanku. Toh apa yang kubutuhkan tak kurang satu apa pun. Bahkan kasih sayang seorang ibu yang sedari kecil tak pernah kudapatkan juga cinta layaknya dari seorang istri kudapatkan di sini.

Aku membayangkan kawan-kawanku sedang sibuk mencari pelacur-pelacur murahan di pelabuhan kecil ini. Atau masih sempat menawar-nawar. Kubayangkan mereka sedang mabuk dan bersenang-senang di pangkuan perempuan belia di rumah bordil yang masih sulit dicari.

***

MALAM itu, seusai bercinta, ia menempelkan telinga di dadaku yang masih berkeringat. Entah apa yang ia dengar di sana. Kukira hanya detak jantung dan desah napas yang masih tak beraturan. Ia tersenyum kepadaku.

“Kenapa?” aku bertanya. Dia menggeleng manja. Tiba-tiba aku yang bertanya.

“Mencintai lelaki pelaut memiliki banyak risiko. Kenapa kamu memilih mencintai lelaki pelaut sepertiku?”

“Lelaki pelaut seperti seekor anak penyu, sejauh mana ia berlayar akan selalu rindu tempatnya bermuasal. Aku mencintai lelaki pelaut karena di dadanya selalu terdengar gemuruh ombak, jerit camar, dan badai. Di dalam dirinya tertanam kepekaan, ketegaran, dan tanggung jawab. Dari keringat dan tubuhnya meruap aroma asin keluasan samudera. Di dalam matanya terpijar gairah rindu yang meluap-luap. Kau tahu, yang melingkupiku kini adalah rasa damai yang menjalar dari dadamu.”

“Tidakkah kamu takut mencintai seorang lelaki pelaut?”

“Takut atas apa?”

“Jika orang yang kau cintai akan hilang selamanya?”

“Aku tidak takut,” jawabnya.

Beberapa malam berikutnya, ia kembali menempelkan telinganya di dadaku yang masih berkeringat. Lalu aku berkata.

“Kami para pelaut terkadang merasa jenuh berbulan-bulan berada di tengah samudra tanpa ada yang menghibur. Tentu saja banyak pelabuhan-pelabuhan yang minta disinggahi dan di sana banyak wanita-wanita cantik yang akan menghibur melepas segala kejemuan. Selama di darat menjadi waktu yang baik buat menyinggahi kedai tuak, warung judi, dan rumah pelacuran.”

“Aku tak memasalahkan itu. Yang penting kamu selalu ingat kepadaku dan masih ingin pulang karena menyimpan rindu.”

Kemudian ia memintaku menceritakan kisah-kisah pelayaran. Dengan senang hati aku menuruti kemauannya. Dan ia selalu menempelkan telinga di dadaku, menagih kisah-kisah pelayaran yang akan mengantarkannya tidur dengan sangat lelap.

***

KAMI harus segera berlayar karena telah terlalu lama kami berada di daratan. Kawan-kawanku sudah naik ke geladak ketika perempuan itu menyusulku ke ujung dermaga. Ia menyerahkan serantang makanan kepadaku. Aku berharap ia akan menangis dan memelukku erat, seolah tak ingin melepaskanku. Tapi dugaanku salah. Ia tak melakukan itu.

“Ini untuk makan di kapal nanti, supaya selalu ada hasrat untuk kembali ke sini.”

Tiba-tiba saja dadaku telah koyak oleh cemas. Kenapa aku yang cemas? Bahkan ia yang akan kutinggalkan terlihat lebih tegar seolah telah terbiasa oleh kepergian seorang yang dicintai. Ah, mungkinkah aku akan singgah kembali ke pelabuhan ini?

“Janganlah lupa pesanku, bila rindu telah tanak di dadamu bersegeralah pulang. Aku akan menyambutmu di sini. Dan kamu harus tahu, akhir-akhir ini aku merasa di dalam perutku telah terisi sesuatu, mungkin umurnya baru satu bulan. Kamu akan jadi ayah sebentar lagi.”

Sungguhkah aku akan menjadi ayah? Kenapa baru sekarang ia sampaikan kabar bahagia ini di saat perpisahan sudah di ambang mata?

Lalu terdengar suara kawanku berteriak dari atas geladak memanggilku. “Sahdan! Cepatlah naik, kita harus segera berangkat!”

Ia tak berusaha merengkuh tanganku untuk menahanku beberapa jenak. Untuk pertama kalinya aku merasa jadi pecundang. Aku kalah oleh diriku sendiri. Setelah itu tak ada kata-kata lagi yang keluar dari mulutnya. Desau angin yang terdengar. Tak ada yang bisa kutinggalkan selain sepotong kalimat yang akan memperteguh keyakinannya. “Aku akan kembali sebelum kamu melahirkan.” Itu saja. Tak lebih.

Setelah itu aku meninggalkannya. Ia masih membisu menatap kepergianku dari tubir dermaga. Aku melambai, ia tetap membeku. Rambutnya yang panjang dan ujung kainnya dikibarkan angin laut yang berembus kencang. Bayangannya semakin menjauh dan ia masih mematung di tubir dermaga memandang ke kapal kami yang segera hilang dari pandangannya.

***

TELAH kami singgahi bandar-bandar dan pelabuhan. Bersama perompak kami melayari badai. Telah kami arungi tujuh samudera. Telah kami telusuri tiap lekuk tanjung, ceruk teluk, semenanjung dan selat di dunia. Sekian purnama kami berlayar, mengembara di segenap penjuru angin. Sekian kali kami membuang sauh, menggulung layar, dan menyinggahi daratan. Sekian waktu kami ingin melihat curam karang dan gugus bebukitan. Atau berhari-hari menatap keluasan laut yang kosong. Namun tetap saja aku merindui pelabuhan di sebuah tanjung yang menyimpan dirimu.

Telah lama kami jadi tualang, seperti yang ditingkahi puyang. Dari tiang-tiang layar yang setiap waktu mengukir angin, lambung kapal yang dibantun ombak dan di tengah geladak senantiasa aku menulisi rindu yang mulai berkarat. Di dalam dadaku menyimpan debur ombak. Dan aroma tubuhmu masih tertinggal di tubuhku, tak hilang sampai berhari-hari berminggu-minggu berbulan-bulan membuatku selalu berhasrat untuk mengunjunginya sewaktu-waktu. Bukankah aku telah berjanji kapadamu bahwa aku akan segera kembali sebelum bayi di rahimmu dilahirkan?

Ah, sebentar lagi aku akan menjadi ayah. Dan seorang pelaut adalah lelaki yang peka, bertanggung jawab, dan tegar seperti karang. Maka kutolak mentah-mentah ajakan kawanku meneruskan kebiasaan lama kami: tenggelam dalam lautan tuak dan perempuan.

Dan tatkala rinduku mulai tanak, entah purnama ke berapa telah kulewati, maka kulunasi janjiku untuk kembali ke pelabuhanmu. Bukankah benih yang telah kubenamkan di perutmu telah matang sekarang? Kita hanya akan menghitung minggu-demi minggu. Lalu segera kita akan menjadi sosok sepasang orang tua.

Bukankah kau akan selalu merindukan gemuruh di dadaku dan suatu malam akan kautempelkan telingamu? Dan di ujung dermaga kau menungguku sembari termangu. Dan ketika ujung layar kapal kami telah terlihat kau sudah akan menyiapkan ritual penyambutan. Dan hatimu mulai tak sabar menyaksikan kapal kami mulai merapat.

Namun, di ujung dermaga itu tak kutemukan dirimu. Memang kami tiba di dermaga saat malam mulai menua, tentu tak mungkin bagimu menantiku sampai larut begini. Segera kutepis segala prasangka. Dan aku tak mungkin menyimpan rasa kecewa lantaran kau tak menyambutku di mulut dermaga. Aku pun mengerti keadaanmu yang tengah hamil tua.

Kapal kami merapat. Kami ke penginapan terlebih dahulu. Setelah itu aku datang ke gubukmu. Sengaja aku ingin memberi kejutan. Tak sabar aku ingin bertemu. Namun di sana tak kutemukan siapa-siapa selain gubuk yang kosong. Tak ada tanda-tanda kau berada di sana. Lalu aku kembali ke penginapan dengan menanggung kecewa.

Tatkala pagi mulai meriap, kutanyakan keberadaanmu kepada para tetangga. Mereka menjawab dengan nada murung. Seperti juga burung-burung di pagi buta itu berkabung. Dan setiap tetangga yang kutanyai menyampaikan jawab yang sama:

“Ia selalu menantimu sepanjang waktu. Ibunya telah meninggal sebulan setelah kepergianmu, setelah itu ia sebatangkara. Ia hanya menghabiskan waktu duduk termangu di ujung dermaga. Lalu pulang berjalan tersuruk di malam buta. Tak pernah ada yang mengira ia terjerembab di sisi dermaga. Pagi itu kami menemukan mayatnya mengambang di laut dengan kedua belah tangan membekap kandungannya.”®

Demi mendengar itu, lututku lunglai. Apa yang dulu tak pernah kuangan-angankan (pun kuingin-inginkan) datang kemudian berlalu begitu saja.

Kotaagung, 20 Oktober 2010

Tidak ada komentar:

Label

A Rodhi Murtadho A. Aziz Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aa Maulana Abdi Purnomo Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Wachid B.S. Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Zamzam Noor Ach. Sulaiman Achdiar Redy Setiawan Adhitia Armitrianto Adhitya Ramadhan Adi Marsiela Adi Prasetyo Afrizal Malna Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan MN Agunghima Agus B. Harianto Agus Buchori Agus M. Irkham Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Hasan MS Ahmad Ikhwan Susilo Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Rafiq Ahmad Sahal Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Ali Ibnu Anwar Ali Murtadho Alia Swastika Alunk S Tohank Amanda Stevi Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Aning Ayu Kusuma Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Suparyanto Anugrah Gio Pratama Anung Wendyartaka Aprinus Salam Ardi Bramantyo Arie MP Tamba Arief Junianto Arif Bagus Prasetyo Aris Setiawan Arman AZ Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Dudinov Ar Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayung Notonegoro Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Balok Sf Bambang Kariyawan Ys Bambang Kempling Bandung Mawardi Baridul Islam Pr Bayu Agustari Adha Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Boni Dwi Pramudyanto Bonnie Triyana Boy Mihaballo Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman Sudjatmiko Bulqia Mas’ud Bung Tomo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chairul Abshar Chamim Kohari Chandra Johan Chavchay Syaifullah Cover Buku Cucuk Espe D. Dudu AR D. Kemalawati D. Zawawi Imron Dadang Kusnandar Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darmanto Jatman David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Muhtadi Dedy Tri Riyadi Deni Andriana Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dewi Rina Cahyani Dian Dian Hartati Dian Sukarno Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Dino Umahuk Djadjat Sudradjat Djoko Pitono Djoko Saryono Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwi Wiyana Dwicipta E. Syahputra Ebiet G. Ade Eddy Flo Fernando Edi Sembiring Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Ekky Siwabessy Eko Darmoko Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil WE Endah Wahyuningsih Endhiq Anang P Erwin Y. Salim Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faisal Kamandobat Faiz Manshur Fajar Kurnianto Fajar Setiawan Roekminto Fakhrunnas MA Jabbar Farid Gaban Fathan Mubarak Fathurrahman Karyadi Fatkhul Anas Fazar Muhardi Febby Fortinella Rusmoyo Felik K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Fitri Yani Frans Ekodhanto Frans Sartono Franz Kafka Fredric Jameson Friedrich Nietzsche Fuad Anshori Fuska Sani Evani G30S/PKI Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Geger Riyanto Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gibb Gilang Abdul Aziz Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gusti Eka H.B. Jassin Hadi Napster Hadriani Pudjiarti Halim H.D. Hamdy Salad Han Gagas Handoko Adinugroho Happy Ied Mubarak Hardi Hamzah Harfiyah Widiawati Hari Puisi Indonesia (HPI) Hari Santoso Harie Insani Putra Haris del Hakim Haris Priyatna Hary B Kori’un Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Helmi Y Haska Helwatin Najwa Hendra Sugiantoro Hendri R.H Hendry CH Bangun Henry Ismono Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Herie Purwanto Herman Rn Heru CN Heru Joni Putra Hudan Hidayat Hudan Nur I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Nyoman Tingkat I Tito Sianipar Ibnu Wahyudi Icha Rastika Idha Saraswati Ignas Kleden Ignatius Haryanto Ilenk Rembulan Ilham Q Moehiddin Ilham Yusardi Imam Muhtarom Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indira Permanasari Indra Intisa Indra Tjahyadi Indra Tranggono Irfan Budiman Ismi Wahid Istiqamatunnisak Iwan Komindo Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iyut FItra Izzatul Jannah J Anto J.S. Badudu Jafar M. Sidik Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamil Massa Janual Aidi Januardi Husin Javed Paul Syatha Jefri al Malay JJ Kusni JJ Rizal Jo Batara Surya Jodhi Yudono Johan Khoirul Zaman Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Joss Wibisono Jual Buku Paket Hemat Judyane Koz Jusuf AN Karkono Kasnadi Katrin Bandel Kedai Kopi Sastra Kedung Darma Romansha Ken Rahatmi Khairul Amin Khairul Mufid Jr Khoshshol Fairuz Kirana Kejora Koh Young Hun Komang Ira Puspitaningsih Komunitas Deo Gratias Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kritik Sastra Kurniawan Kurniawan Junaedhie Lan Fang Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lela Siti Nurlaila Lidia Mayangsari Lie Charlie Liestyo Ambarwati Khohar Liza Wahyuninto Lukas Adi Prasetyo Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Fadjroel Rachman M. Arman A.Z M. Arwan Hamidi M. Faizi M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S M. Mustafied M. Nahdiansyah Abdi M. Shoim Anwar M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahfud Ikhwan Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Mainteater Bandung Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria Bo Niok Mario F. Lawi Mark Hanusz Marsudi Fitro Wibowo Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Maryati Mashuri Matdon Matroni A. el-Moezany Maya Mustika K. Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri Mezra E. Pellondou MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mihar Harahap Mila Novita Misbahus Surur Muhajir Arrosyid Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Ali Fakih Muhammad Amin Muhammad Antakusuma Muhammad Iqbal Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mulyadi J. Amalik Munawir Aziz Murparsaulian Musdalifah Fachri Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W. Hasyim N. Syamsuddin CH. Haesy Naskah Teater Nazaruddin Azhar Nelson Alwi Nenden Lilis A Neni Nureani Ni Putu Rastiti Nirwan Dewanto Nita Zakiyah Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nur Faizah Nur Syam Nur Wahida Idris Nurani Soyomukti Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurrudien Asyhadie Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurur Rokhmah Bintari Nuryana Asmaudi Odi Shalahuddin Oei Hiem Hwie Okky Madasari Okta Adetya Olivia Kristina Sinaga Otto Sukatno CR Oyos Saroso HN Pablo Neruda Pamusuk Eneste Pandu Radea Parakitri Parulian Scott L. Tobing PDS H.B. Jassin Pengantar Buku Kritik Sastra Pepih Nugraha Pesan Al Quran untuk Sastrawan Petrik Matanasi Pipiet Senja Pitoyo Boedi Setiawan Ponorogo Pramoedya Ananta Toer Pringadi Abdi Surya Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi PuJa Puji Santosa Pungkit Wijaya PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Setia Putu Wijaya R. Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Ragil Supriyatno Samid Rahmat Sudirman Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ramadhan Pohan Rameli Agam Ramon Damora Ranang Aji SP Ratih Kumala Ratna Ajeng Tejomukti Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Reko Alum Reny Sri Ayu Resensi Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rosdiansyah Rukardi S Yoga S. Jai S. Satya Dharma S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabiq Carebesth Sabpri Piliang Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Sal Murgiyanto Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salyaputra Samsudin Adlawi Sandipras Sanggar Pasir Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Saroni Asikin Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Perlawanan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shafwan Hadi Umry Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Irni Nidya Nurfitri Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad St Sularto Sudarmoko Sulaiman Tripa Sultan Yohana Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Suroto Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaiful Amin Syarif Hidayat Santoso Syarifudin Syifa Amori Syifa Aulia Tajuddin Noor Ganie Tantri Pranashinta Tanzil Hernadi Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theo Uheng Koban Uer Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tien Rostini Titian Sandhyati Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjoet Nyak Dhien Toef Jaeger Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tri Wahono Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udin Badruddin Udo Z. Karzi Umar Fauzi Umbu Landu Paranggi Umi Laila Sari Umi Lestari Universitas Indonesia Untung Wahyudi Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W.S. Rendra Wahyu Prasetya Wahyudi Akmaliah Muhammad Wawan Eko Yulianto Wawancara Welly Adi Tirta Widi Wastuti Wiji Thukul Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Y. Thendra BP Yona Primadesi Yosephine Maryati Yosi M Giri Yudhis M. Burhanuddin Yulizar Fadli Yurnaldi Yusri Fajar Yuyuk Sugarman Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zulkarnain Zubairi