Sabtu, 10 Desember 2011

Hanya Bisa Meratap

Ahmad Zaini*
http://sastra-indonesia.com/

Di depan rumah, Mbah Sanusi duduk sambil menghisap rokok. Dari mulutnya keluar kepulan asap membumbung menerpa atap rumahnya. Seketika asapnya menghilang bersama hembusan angin yang lewat pada siang hari. Tubuh kurus yang terbalut seragam veteran disandarkan pada kursi goyang peninggalan orang tuanya sewaktu zaman penjajahan. Di sebelah kanan seragam dinasnya tersemat lencana veteran yang dikenakan setiap peringatan hari pahlawan.

Mbah Sanusi meraih tongkat warna coklat mengkilat yang disandarkan di dinding rumah. Tangan kurus dengan kulit keriput perlahan memegang erat tongkat yang sejak jaman penjajahan sebagai teman hidupnya. Tongkat tersebut sebagai penyangga kaki kanannya yang cacat akibat disiksa oleh para kompeni waktu itu. Masih segar dalam ingatannya, sewaktu ia berangkat menuju pos komando. Di tengah perjalanan ia dihadang oleh para kompeni. Ia diperiksa kemudian ditangkap. Tidak cukup sampai di situ, Mbah Sanusi juga disiksa hingga kaki kanannya menderita cacat permanen seperti sekarang ini.

Jika ia mengenang masa lalu, saat Mbah Sanusi bergerilya beserta kawan-kawannya, ia selalu menitikkan air mata. Ia merasakan betapa beratnya merebut kemerdekaan yang selama bertahun-tahun dikuasai penjajah. Setiap malam ia bergerilya, menyelinap ke sarang-sarang penjajah guna memata-matai mereka. Setiap hari ia meninggalkan istrinya yang sedang hamil delapan bulan. Sampai-sampai saat kelahiran anak pertamanya ia tidak bisa menunggui istrinya yang berjuang antara hidup dan mati demi kelahiran buah hatinya. Akan tetapi, semangat patriotis dan nasionalis Sanusi muda tetap bergelora mengalahkan kepentingan keluarga demi martabat nusa dan bangsa.

Lamunan Mbah Sanusi ke masa lalunya seketika sirna ketika mendengar bunyi sirine meraung dari tengah alun-alun kota. Bergegas ia menyeka air matanya dengan sapu tangan di sampingnya. Mbah sanusi berdiri dengan bantuan tongkat di tangan kanannya. Badannya gemetar saat melangkahkan kakinya yang mulai ringkih. Ia berdiri di pagar rumahnya menyaksikan segelintir orang yang sedang melaksanakan upacara memperingati Hari Pahlawan. Sayup-sayup terdengar aba-aba komandan upacara memberikan istruksi kepada peserta upacara lalu disusul renteran tembakan yang berdentuman di angkasa. Riuh rendah lagu Indonesia Raya berkumandang dari tengah lapangan. Diiringi kibaran merah putih yang merayap menapaki tiang. Tangan kanan Mbah Sanusi bergerak memindah tongkat penyangga kakinya. Ia alihkan tongkatnya ke tangan kiri. Dengan segala tenaga yang tersisa, tangan kanan Mbah Sanusi membentuk sikap hormat kepada sang saka merah putih. Mata sayu berkaca-kaca terkena pantulan cahaya surya. Tak lama kemudian air mata bening sisa-sisa perjuangan masa lalu meleleh melintasi pipinya yang sudah kempong dimakan usia.

Panas menyengat tiada ia rasa. Semangat kepahlwanan Mbah Sanusi seakan menggelora kembali. Namun, apa daya energi sudah tidak mumpuni. Akhirnya, ia hanya pasrah saat putra pertama yang kini mengasuhnya, menuntun tangan kirinya mengajak masuk ke rumah.

”Merdeka!” pekik Mbah Sanusi kepada putranya.

”Merdeka!” putranya menimpali dengan tangan kanan mengepal.

Tubuh kurus Mbah Sanusi kemudian disandarkan lagi pada kursi yang berada di ruang tamu.

”Sholihan, tolong nyalakan televisi!” perintah Mbah Sanusi kepada putranya yang kini sudah menduda.

Pukul 12.00 WIB ada tanyangan berita dari salah satu televisi swasta. Setiap ada tanyangan berita, Mbah Sanusi selalu mengikutinya. Ia ingin mengetahui perjalanan bangsa ini yang sudah memasuki usia setengah abad lebih. Pada tayangan pertama, tersiar kabar pembunuhan. Seorang anak tega membunuh ayah kandungnya gara-gara tidak menuruti permintaannya agar dibelikan sepeda motor. Pada berita berikutnya, telah terjadi tawuran antarpelajar yang dirangkai dengan berita rekaman video mesum yang melibatkan seorang siswi dengan seorang pejabat pemerintahan. Berita selanjutnya berisi para petinggi negara terlibat kasus tindak pidana korupsi. Dan yang terakhir adalah berita kelaparan yang melanda berbagai daerah di Indonesia.

”Astaghfirullahal Adziim!” ucap Mbah Sanusi seraya melepaskan rokok yang dijepit dengan kedua jari tangan kanannya.

Ia merasa belum sempurna perjuangannya di masa lalu. Melihat kondisi bangsa yang semakin rusak seperti sekarang ini, ingin rasanya ia bangkit untuk berjuang menanggulangi kebobrokan moral yang dialami para pejabat dan generasi penerus bangsa. Terasa sia-sia pula darah yang mengalir di setiap luka teman-temannya.

”Kami telah berjuang dengan mengorbankan harta benda, nyawa, dan keluarga. Tapi apa balasan generasi muda sekarang ini? Kami tidak butuh tanda jasa. Kami tak butuh penghargaan. Kami tak butuh dikenang. Yang kami butuhkan adalah munculnya generasi-generasi baru yang meneruskan perjuangan kami dan juga kawa-kawan yang gugur di medan peperangan,” keluhnya.

Suara Mbah Sanusi melemah. Tubuh kurusnya gemetar. Lambat laun tubuh itu lunglai di sandaran kursi tuanya. Sholihan bergegas membopong tubuh ayahnya lantas dibaringkan di sebuah ranjang beralas kasur dengan sprei berlogo veteran. Penyakit tuanya, asma, kambuh lagi. Napasnya tersengal-sengal. Tubuh kurusnya terguncang-guncang di atas ranjang. Sholihan segera memanggil tetangganya untuk dimintai bantuan memanggilkan dokter yang selama ini merawat orang tuanya. Tak lama kemudian dokternya datang.

Mbah Sanusi berjuang melawan asma saat upacara peringatan Hari Pahlawan berlangsung. Detik-detik menegangkan telah berlalu setelah dokter memberikan suntikan obat di bokongnya. Mbah Sanusi perlahan mulai sadar. Jari-jarinya bergerak seperti mengisyaratkan sesuatu. Sholihan yang sudah paham dengan isyarat itu segera mengambilkan sebatang rokok kepada ayahnya. Saat rokok itu akan disulut dengan korek api, dokter segera mencegahnya.

”Jangan diberi rokok, Mas!”

”Biarlah, Dok! Biarkan rokok ini menenangkan pikiranku. Tanpa rokok saya akan teringat dan trauma dengan tayangan berita yang baru saja kusaksikan tadi,” kata Mbah Sanusi menentang larangan dokter.

”Tapi, Mbah San, pengidap penyakit asma itu tidak boleh merokok!”

”Aku ingin merasakan racun tembakau ini karena bahaya racun rokok yang kurasakan tak sebanding dengan racun yang menggerogoti moral generasi muda sekarang,” ucapnya sekali lagi pada dokter yang merawatnya.

Sholihan sebagai putra satu-satunya mencoba memberikan pengertian kepada ayahnya. Tapi, selalu gagal. Setiap kali ia akan membujuk ayahnya agar tidak merokok, Mbah Sanusi selalu beralasan seperti itu lagi. Akhirnya, Sholihan menyerah dan menuruti apa yang diminta oleh ayahnya.

Sebatang rokok telah ia apit dengan dua jari tangan kirinya. Sholihan membantu menyulutkan korek api pada rokok ayahnya. Sekali disulut bara memerah di ujung rokok ayahnya merambat mendekati bibir hitam Mbah Sanusi akibat sering merokok. Dengan mendesah Mbah Sanusi menghisap rokok kemudian asap rokoknya disemburkan memenuhi ruangan tengah rumahnya. Sholihan, para tetangga dan dokter hanya diam mematung melihat aksi nekat yang dilakukan oleh Mbah Sanusi.

”Uhuk, uhuk, uhuk! Dok, tolong aku!” pinta Mbah Sanusi dengan suara parau.

Dokter beserta mereka yang masih berada di situ segera beranjak dari tempat mereka berdiri. Mereka segera menghampiri dan memeriksa keadaan Mbah Sanusi. Napasnya kembali tersengal. Tubuhnya terguncang-guncang. Dari mulut dan telinganya mengalir darah segar. Tubuh Mbah Sanusi segera diangkat ke ambulance yang dibawa oleh dokter. Segera ambulan itu melesat meninggalkan rumah sederhana di pinggiran kota menuju rumah sakit.

Setengah hari Mbah Sanusi dalam perawatan intensif tim dokter. Mata sayunya perlahan terbuka. Ia melihat sekelilingnya dengan senyum keramahan. Bisik suaranya memanggil anak semata wayangnya. Kemudian telinga Sholihan didekatkan pada mulutnya. Sebentar Sholihan mencium bau amis darah yang bercampur dengan bau asap rokok.

”Panji-panji perjuangan harus ditegakkan. Selamatkan generasi penerus bangsa dari segalam macam bentuk penjajahan. Lindungilah moral mereka dari racun kehidupan modern!” bisiknya.

Kemudian mata yang sempat terbuka perlahan tertutup dan terpejam untuk selama-lamanya.

”Innalillahi Wainna Ilaihi Rojiuun!” kata dokter.

”Beliau telah meninggal dunia!” sambungnya.

Mulut mungil dengan simpul senyumnya mengakhiri perjuangan Mbah Sanusi selama ini. Ia telah pergi ke tempat peristirhatan abadinya.

Karangan aneka bunga berjajar rapi di pagar rumahnya sebagai ungkapan belasungkawa dari kerabat dan handai taulan. Gundukan tanah dengan batu nisan telah mengubur sejuta kenangan selama dalam perjuangan. Namun harum wangi bunga yang ditaburkan di atas pusara, semerbak wanginya tercium sepanjang masa. (*)

Lamongan, November 2011

*) Dilahirkan di Lamongan, 7 Mei 1976. Beberapa puisi dan cerpennya pernah dimuat di Radar Bojonegoro, Majalah MPA (Depag Jatim), Antologi Puisi Bersama seperti Bulan Merayap (Dewan Kesenian Lamongan,2004), Lanskap Telunjuk (DKL, 2004), Khianat Waktu, Antologi Penyair Jawa Timur (DKL, 2006), Absurditas Rindu (Sastra Nesia Lamongan, 2006), Kidung Rumeksa Praja (Dewan Kesenian Jawa Timur, 2010).

Tidak ada komentar:

Label

A Rodhi Murtadho A. Aziz Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aa Maulana Abdi Purnomo Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Wachid B.S. Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Zamzam Noor Ach. Sulaiman Achdiar Redy Setiawan Adhitia Armitrianto Adhitya Ramadhan Adi Marsiela Adi Prasetyo Afrizal Malna Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan MN Agunghima Agus B. Harianto Agus Buchori Agus M. Irkham Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Hasan MS Ahmad Ikhwan Susilo Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Rafiq Ahmad Sahal Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Ali Ibnu Anwar Ali Murtadho Alia Swastika Alunk S Tohank Amanda Stevi Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Aning Ayu Kusuma Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Suparyanto Anugrah Gio Pratama Anung Wendyartaka Aprinus Salam Ardi Bramantyo Arie MP Tamba Arief Junianto Arif Bagus Prasetyo Aris Setiawan Arman AZ Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Dudinov Ar Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayung Notonegoro Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Balok Sf Bambang Kariyawan Ys Bambang Kempling Bandung Mawardi Baridul Islam Pr Bayu Agustari Adha Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Boni Dwi Pramudyanto Bonnie Triyana Boy Mihaballo Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman Sudjatmiko Bulqia Mas’ud Bung Tomo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chairul Abshar Chamim Kohari Chandra Johan Chavchay Syaifullah Cover Buku Cucuk Espe D. Dudu AR D. Kemalawati D. Zawawi Imron Dadang Kusnandar Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darmanto Jatman David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Muhtadi Dedy Tri Riyadi Deni Andriana Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dewi Rina Cahyani Dian Dian Hartati Dian Sukarno Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Dino Umahuk Djadjat Sudradjat Djoko Pitono Djoko Saryono Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwi Wiyana Dwicipta E. Syahputra Ebiet G. Ade Eddy Flo Fernando Edi Sembiring Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Ekky Siwabessy Eko Darmoko Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil WE Endah Wahyuningsih Endhiq Anang P Erwin Y. Salim Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faisal Kamandobat Faiz Manshur Fajar Kurnianto Fajar Setiawan Roekminto Fakhrunnas MA Jabbar Farid Gaban Fathan Mubarak Fathurrahman Karyadi Fatkhul Anas Fazar Muhardi Febby Fortinella Rusmoyo Felik K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Fitri Yani Frans Ekodhanto Frans Sartono Franz Kafka Fredric Jameson Friedrich Nietzsche Fuad Anshori Fuska Sani Evani G30S/PKI Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Geger Riyanto Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gibb Gilang Abdul Aziz Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gusti Eka H.B. Jassin Hadi Napster Hadriani Pudjiarti Halim H.D. Hamdy Salad Han Gagas Handoko Adinugroho Happy Ied Mubarak Hardi Hamzah Harfiyah Widiawati Hari Puisi Indonesia (HPI) Hari Santoso Harie Insani Putra Haris del Hakim Haris Priyatna Hary B Kori’un Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Helmi Y Haska Helwatin Najwa Hendra Sugiantoro Hendri R.H Hendry CH Bangun Henry Ismono Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Herie Purwanto Herman Rn Heru CN Heru Joni Putra Hudan Hidayat Hudan Nur I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Nyoman Tingkat I Tito Sianipar Ibnu Wahyudi Icha Rastika Idha Saraswati Ignas Kleden Ignatius Haryanto Ilenk Rembulan Ilham Q Moehiddin Ilham Yusardi Imam Muhtarom Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indira Permanasari Indra Intisa Indra Tjahyadi Indra Tranggono Irfan Budiman Ismi Wahid Istiqamatunnisak Iwan Komindo Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iyut FItra Izzatul Jannah J Anto J.S. Badudu Jafar M. Sidik Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamil Massa Janual Aidi Januardi Husin Javed Paul Syatha Jefri al Malay JJ Kusni JJ Rizal Jo Batara Surya Jodhi Yudono Johan Khoirul Zaman Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Joss Wibisono Jual Buku Paket Hemat Judyane Koz Jusuf AN Karkono Kasnadi Katrin Bandel Kedai Kopi Sastra Kedung Darma Romansha Ken Rahatmi Khairul Amin Khairul Mufid Jr Khoshshol Fairuz Kirana Kejora Koh Young Hun Komang Ira Puspitaningsih Komunitas Deo Gratias Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kritik Sastra Kurniawan Kurniawan Junaedhie Lan Fang Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lela Siti Nurlaila Lidia Mayangsari Lie Charlie Liestyo Ambarwati Khohar Liza Wahyuninto Lukas Adi Prasetyo Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Fadjroel Rachman M. Arman A.Z M. Arwan Hamidi M. Faizi M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S M. Mustafied M. Nahdiansyah Abdi M. Shoim Anwar M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahfud Ikhwan Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Mainteater Bandung Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria Bo Niok Mario F. Lawi Mark Hanusz Marsudi Fitro Wibowo Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Maryati Mashuri Matdon Matroni A. el-Moezany Maya Mustika K. Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri Mezra E. Pellondou MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mihar Harahap Mila Novita Misbahus Surur Muhajir Arrosyid Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Ali Fakih Muhammad Amin Muhammad Antakusuma Muhammad Iqbal Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mulyadi J. Amalik Munawir Aziz Murparsaulian Musdalifah Fachri Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W. Hasyim N. Syamsuddin CH. Haesy Naskah Teater Nazaruddin Azhar Nelson Alwi Nenden Lilis A Neni Nureani Ni Putu Rastiti Nirwan Dewanto Nita Zakiyah Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nur Faizah Nur Syam Nur Wahida Idris Nurani Soyomukti Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurrudien Asyhadie Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurur Rokhmah Bintari Nuryana Asmaudi Odi Shalahuddin Oei Hiem Hwie Okky Madasari Okta Adetya Olivia Kristina Sinaga Otto Sukatno CR Oyos Saroso HN Pablo Neruda Pamusuk Eneste Pandu Radea Parakitri Parulian Scott L. Tobing PDS H.B. Jassin Pengantar Buku Kritik Sastra Pepih Nugraha Pesan Al Quran untuk Sastrawan Petrik Matanasi Pipiet Senja Pitoyo Boedi Setiawan Ponorogo Pramoedya Ananta Toer Pringadi Abdi Surya Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi PuJa Puji Santosa Pungkit Wijaya PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Setia Putu Wijaya R. Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Ragil Supriyatno Samid Rahmat Sudirman Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ramadhan Pohan Rameli Agam Ramon Damora Ranang Aji SP Ratih Kumala Ratna Ajeng Tejomukti Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Reko Alum Reny Sri Ayu Resensi Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rosdiansyah Rukardi S Yoga S. Jai S. Satya Dharma S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabiq Carebesth Sabpri Piliang Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Sal Murgiyanto Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salyaputra Samsudin Adlawi Sandipras Sanggar Pasir Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Saroni Asikin Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Perlawanan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shafwan Hadi Umry Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Irni Nidya Nurfitri Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad St Sularto Sudarmoko Sulaiman Tripa Sultan Yohana Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Suroto Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaiful Amin Syarif Hidayat Santoso Syarifudin Syifa Amori Syifa Aulia Tajuddin Noor Ganie Tantri Pranashinta Tanzil Hernadi Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theo Uheng Koban Uer Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tien Rostini Titian Sandhyati Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjoet Nyak Dhien Toef Jaeger Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tri Wahono Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udin Badruddin Udo Z. Karzi Umar Fauzi Umbu Landu Paranggi Umi Laila Sari Umi Lestari Universitas Indonesia Untung Wahyudi Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W.S. Rendra Wahyu Prasetya Wahyudi Akmaliah Muhammad Wawan Eko Yulianto Wawancara Welly Adi Tirta Widi Wastuti Wiji Thukul Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Y. Thendra BP Yona Primadesi Yosephine Maryati Yosi M Giri Yudhis M. Burhanuddin Yulizar Fadli Yurnaldi Yusri Fajar Yuyuk Sugarman Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zulkarnain Zubairi