Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2011

Demitologisasi Sastra Mantra Sutardji

Hasnan Bachtiar
http://kataitukata.wordpress.com/

Dewasa ini telah mengemuka suatu mitos sastra (Barthes). Para kritikus, seolah bahu-membahu dalam konsensus imajiner, mengimani suatu mazhab yang mutakhir. Sastrawan “mantra” menjadi imam bagi mayoritas umat: Sutardji Calzoum Bachri (SCB).

Bukan hal yang mengherankan, penisbatan ini tertuju kepada penyair masyhur itu. Pujangga yang hebat, memiliki puisi-puisi yang sangat baik dan sungguh sulit mencari cela pada anak-anak rohani yang telah tercipta dengan kualitas berkelas, kecuali oleh ketajaman kritikus tulen yang bernyali. Dengan menaruh segala rasa hormat, bahwa tulisan-tulisannya yang hadir dalam kesusastraan Indonesia, barangkali setara dengan pelbagai khazanah tafsir kitab suci yang diagungkan.

Kehebatan SCB terdengar menyeruak di tengah pujangga, kritikus, akademisi, hingga penikmat sastra. Bahkan sangat familier, sehingga begitu dekat dengan pembacanya.

Di tengah gegap gempita bersinarnya sosok SCB, tidak jarang beberapa kalang…

Menulis di Atas Mantera

Sutardji Calzoum Bachri
Media Indonesia, 16 Des 2007

SUDAH lebih dari tiga puluh tahun yang lalu sikap kepenyairan saya paparkan di berbagai kesempatan, antara lain seperti dalam acara pembacaan sajak. Sedikitnya masyarakat pecinta puisi agaknya sudah tahu.

Saya adalah penyair yang menulis tidak dari suatu kekosongan. Saya menulis di atas kertas yang telah berisi tulisan. Saya menulis di atas tulisan. Tulisan itu adalah hasil budaya dari subkultur yang sangat saya akrabi, yaitu budaya Riau berupa mantra.

Dengan atau dari atau di atas mantra itulah saya menulis. Dalam aktivitas menulis, kadang bagian-bagian mantra itu saya pertebal dengan tulisan saya. Kadang mantra itu malah tertutup, terhapus, atau terlupakan karena tulisan saya yang berada di atasnya. Memang salah satu peran menulis ialah upaya untuk menutup atau melupa, yakni melupakan nilai-nilai atau ihwal yang tak lagi relevan untuk masa-masa kini atau masa depan, dengan demikian lebih terfokuskan (tambahan makna) pada bagian-ba…

Ketika Puisi Mengalienasi Kita

Aguk Irawan MN
http://cetak.kompas.com/

Belakangan hari kita menyaksikan bagaimana puisi di Indonesia mendapatkan nasibnya yang paling getir. Bukan hanya penerbit menolak penerbitan buku kumpulan atau antologi puisi, penerbitannya pun harus dihadapkan pada kenyataan bahwa laju penjualannya yang bahkan tidak mencapai target minimal untuk impas.

Beronggok puisi mungkin mengisi laci, file, atau benak para penyair dan—mungkin—meja redaksi majalah atau surat kabar. Sebuah keadaan yang mungkin membuat seorang redaktur surat kabar memberi alasan, ”Kini lebih banyak penyair ketimbang pembacanya,” sebagai apologia hilangnya rubrik puisi yang sudah puluhan tahun bertahan di media itu.

Kini beberapa media yang sebelumnya dikenal komitmen dan perhatiannya kepada kesenian menghapus rubrik itu. Dan bukan hanya penerbit yang meninggalkan puisi secara definitif, beberapa toko buku juga sudah tidak lagi memajang buku puisi sejak beberapa tahun lalu.

Apa sebenarnya yang terjadi? Apa yang mendorong terj…

KESETIAAN ITU BERNAMA PUISI

Hadi Napster
http://sastra-indonesia.com/

PUISI–sebuah kata yang lahir dari persetubuhan tiga huruf vokal dan dua huruf konsonan ini, sejatinya memang serupa misteri. Ya, misteri yang tak pernah lelah menyusuri peradaban, membelah lautan-daratan, menghitung dusta pun kebajikan. Misteri yang tidak saja merasuki nurani dan majemuknya pikiran para ilmuwan serta pakar ternama, melainkan juga menusuk relung kaum awam yang cukup bangga memiliki otak sederhana. Misteri yang tidak hanya dibicarakan secara lisan atau tertulis dalam buku yang tak terhitung lagi jumlahnya, tetapi lebih dari itu, puisi ialah pencatat abadi setiap lekuk-bentuk kehidupan–hingga kematian.

PUISI–yang oleh berbagai pendapat dikatakan berasal dari bahasa Yunani (poietes, poieo, poio, poeo) dan bahasa Latin (poeta), yang artinya: pembangun, pembentuk, pembuat; membangun, menyebabkan, menimbulkan; menyair. Yang oleh pendapat lainnya dikatakan berasal dari bahasa Gerik (poet), yang berarti: orang yang mencipta melalui ima…

Sejarah dalam Kulit Bawang

Afrizal Malna
http://majalah.tempointeraktif.com/

Pada awal 1980-an demonstrasi perdamaian marak di Jerman. Warga menentang keputusan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang menerima penempatan 572 misil Pershing II Amerika Serikat di lima negara Eropa Barat. Tak tanggung-tanggung, Heinrich Boll dan Gunter Grass (keduanya pemenang Nobel Sastra) ikut turun ke jalan. Dua Nobelis ini berpidato tentang tanggung jawab moral Jerman sebagai penyebab pecahnya dua perang dunia.

Dua puluh lima tahun kemudian, 1 September 2006, meluncurlah otobiografi Gunter Grass: Beim Haut der Schwiebel (Pada Kulit Bawang). Sebuah pengakuan mengejutkan disampaikan Grass dalam buku itu. Pada suatu saat, katanya, dia pernah menjadi pasukan Waffen-SS, yakni pasukan elite yang kejam milik Hitler-Nazi. Dunia terperangah!

Kehidupan Dami N. Toda di Jerman, sejak awal hingga akhir sebagai pengajar di Lembaga Studi Indonesia dan Pasifik Universitas Hamburg, ditentukan oleh dua peristiwa itu. Dami mulai mengajar sej…

Sastra dan Penafsiran Ideologis

Aprinus Salam
http://www.jawapos.com/

Salah satu fenomena umum kajian-kajian sastra adalah bahwa sastra dianalisis/dikaji dalam perspektif teori tertentu, tetapi ”tidak dibingkai” oleh ideologi para pengkaji. Kasarnya, walaupun tidak cukup tepat, para pengkaji sastra secara umum tidak mengedepankan ideologi jika meneliti karya sastra. Kenapa hal itu terjadi, dan mengapa kajian kesusastraan perlu dibingkai oleh ideologi?

Dalam rentang waktu yang lama, kajian-kajian keilmuan, baik sosial ataupun humaniora, ”terbelenggu” oleh objektivitas dan netralitas keilmuan. Sesuatu dianggap ilmiah jika kajian tersebut mampu menjauhkan subjektivitas dari ”ideologi pengkaji”, atau bersikap netral terhadap berbagai kepentingan. Sebuah kajian selayaknya ”demi” keilmuan itu sendiri, tidak karena ideologi atau kepentingan tertentu. Ilmu tidak boleh dimanipulasi oleh keperluan-keperluan pragmatis, apalagi karena tujuan-tujuan politik dan ekonomi.

Kajian sastra juga tidak sepenuhnya bebas dari belenggu obj…

PERI KECIL DAN DEWA MALAM

Kirana Kejora
http://sastra-indonesia.com/

CINTA MAYA
”Virus hampa telah rajam hati malam ini dewa…”
Larasati mulai membuka sapa mayanya di Yahoo Messenger pada sebuah id dewa_malam. Sambil dia pilih lagu-lagu cinta di mp3-nya. Teralunlah Dealova-nya Once…aku ingin menjadi mimpi indah dalam tidurmu…aku ingin kau tahu bahwaku selalu memujamu…

”Jingga lembayung tumpah dalam genangan, menyentuh kerling mata senja”
Laras nampak tersenyum ciut, sambil mata kejoranya menatap layar monitor PC- nya.
”Genangan asmara peri kecil dengan dewa malamnya..siangku bersenandung hampa tanpa ujarmu..kenapa tak kau runuti jejak hatiku yang kosong hari ini? Riakmupun tak kutemui, tak ada sentuh relungku..aku sedih…”
”Janganlah air mata tumpah tanpa ada di dadaku.”
”Namun kapan kau rasa hangatnya air mata di dada itu?”
”Saat rindumu mencapai klimaks, maka pejamkan matamu, panggil aku dengan mantramu.”

”Tak kah kau rasa asa pelukku? Setiap malam cekam rajam tubuh peri kecilmu?”
”Aku akan ada dengan keseluru…

Pak Poniman

Ahmad Zaini*
http://sastra-indonesia.com/

Selama bertahun-tahun aku mengabdi di sekolah swasta. Jika dihitung sejak pertama aku berseragam safari, sudah hampir dua puluh lima tahun lamanya. Berkali-kali pula aku mengadu nasib mengikuti tes penerimaan pegawa negeri. Namun, berkali-kali pula kegagalan yang kudapatkan.

BELAJAR MENULIS DARI AZYUMARDI AZRA

Sutejo
Ponorogo Pos

Sejak mahasiswa tingkat S1, Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ini sudah rajin menulis. Awalnya dia menulis sajak dan puisi yang dimuat majalah Time. Berangkat dari kelompok diskusi mulailah dia menulis artikel di berbagai media massa, dan buku pertama yang diterbitkan adalah tesis dan disertasinya. Hingga kini –paling tidak- telah menghasilkan 18 judul.

Adonis: Puisi, Tuhan, Seks

Asarpin
http://sastra-indonesia.com/

Hari ini telah kubakar
fatamorgana Sabtu dan fatamorgana Jumat
hari ini telah kulempar topeng rumah itu
dan telah aku ganti Tuhan batu buta
dan Tuhan hari-hari tujuh
dengan seorang Tuhan yang sudah mati.
–ADONIS, puisi Tuhan yang Sudah Mati, terj.Ahmad Mulyadi

Namaku Odiseus
datang dari negeri tanpa batas
dipanggul orang ramai.
Aku sesat di sini, sesat di sana
dengan sajakku
Dan kini aku di sini, cemas dan jadi alum
Tak tahu bagaimana tinggal
Tak tahu bagaimana pulang
–ADONIS, fragmen puisi Odiseus, terj. Goenawan Mohamad

Adonis bukan cuma nama, tapi juga makna. Dalam khazanah kesusastraan Yunani ia seorang Dewa muda yang tampan, juga perkasa. Tapi nama itu tak cuma merujuk sesosok Dewa. Di dunia perpuisian Arab, bahkan dunia, ada seorang penyair yaang dipanggil Adonis. Dan dia tampaknya tak keberatan menyandang nama itu. Nama sebenarnya Ali Ahmad Said. Ia lahir di Syiria 1930, kemudian ketika dewasa menjadi orang buangan di tanah kelahirannya send…

Obituary Dami N. Toda (1942-2006)

Riris K. Toha-Sarumpaet
http://docs.susastra-journal.com/

DALAM sebuah lawatan kesenian Fakultas Sastra UI ke Yogyakarta di awal 1970-an, Dami dengan suara tenornya yang lengking mengiris, berduet dengan saya. Bukan gentar atas ratusan pasang mata taruna Akademi Militer Nasional (AMN) yang menyaksikan persoalan saya waktu itu, tetapi tuntutan estetik Dami yang untuk ukuran saya sebagai mahasiswa sangat sulit dipenuhi. Masa itu saya lebih mengandalkan alam dan penghayatan, tetapi dia meminta teknik dan pembangunan khalayak.

FESTIVAL SENI SURABAYA; Gaungnya Nyaris Tak Terdengar

Abdul Lathief
http://cetak.kompas.com/

Hari Sabtu (13/11) malam berbarengan dengan pentas ”Rumah Pasir” oleh Teater Koma Jakarta dalam rangkaian Festival Seni Surabaya 2010 bertajuk ”Surabaya Experience” di Gedung Cak Durasim, di Gedung Utama Balai Pemuda Surabaya yang semula dipakai untuk aktivitas FSS justru menjadi tempat penyelenggaraan acara perkawinan.

Mengembangkan Seni Tradisi di Sekolah

Indira Permanasari
Kompas, 15 Des 2006

Ni Randa Dadapan sedang sedih. Hujan lama tidak turun. Makanan menjadi sulit karena kekeringan melanda. Kemudian, diambilnya irus (semacam sendok sayur) yang didandaninya seperti bidadari. Tembang indah yang ibaratnya mantra lalu dilantunkan Ni Randa dengan harapan bidadari sudi menurunkan hujan.

Surat Berdarah Untuk Presiden: Mengantarkan Lea ke Ubud Writting

Pipiet Senja
http://www.kompasiana.com/www.pipitsenja.multiply.com

Prolog

Ini ada surat dari Lea, nama penanya; Jaladara, salah satu penulis pada buku Surat Berdarah Untuk Presiden, diterbitkan oleh Jendela, Grup Zikrul Hakim, Jakarta.

Dia malu-malu mengirimkannya, meskipun baru saja menyelesaikan kuliahnya pada St. Marry, Hong Kong. Karya-karyanya memang luar biasa, bahasanya apik, siapapun takkan pernah mengira bahwa anak yang satu ini penggiat literasi dan seni sastra di kalangan BMI Hong Kong.
Beberapa kali saya membincang karyanya di program Bilik Sastra VOI RRI.

Drama Musikal: Menonton Penonton Onrop!

Agus Noor
Kompas, 28 Nov 2010

HARAPAN, gairah, dan kerinduan itu terasa selama sembilan hari pertunjukan Onrop! yang berlangsung 13-21 November lalu, di Teater Besar Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Berada di antara para penonton, kita bisa ikut merasakan kegembiraan mereka, yang ikut bertepuk, menyanyi, dan tertawa, sepanjang pertunjukan drama musikal yang disutradarai Joko Anwar itu. Inilah tontonan, yang terasa pas dengan para sosialita dan kelas menengah Jakarta, yang merindukan ”hiburan alternatif”, di luar film dan konser musik yang berlimpah.

Toton: Keselarasan Hidup dan Kesusastraan

Boni Dwi Pramudyanto
Kompas, 23 Nov 2010

Toton Dai Permana salah seorang dari sekian sastrawan Indonesia yang mampu mematahkan penilaian publik tentang minimnya peran kesusastraan dalam hal pencapaian kesejahteraan hidup. Baginya, kesusastraan justru punya peran yang besar karena bisa menggerakkan seseorang untuk membangun keselarasan hidup.

Lagu Puisi, Kesetiaan Untung Basuki

Lukas Adi Prasetyo
Kompas,7 Mei 2008

RUANG tamunya agak sempit. Tiga gitar bolong tergeletak, beberapa lukisan berbingkai kayu berikut perlengkapannya, hingga kasur di atas ubin memenuhi ruangan itu. Untung Basuki, si empunya rumah, menyambut kami dengan senyum lebar.

Monggo, silakan duduk,” ucapnya. Dua busa kursi tipis lalu ditariknya mendekat ke meja kayu lesehan. Belum lima menit obrolan mengalir, tangannya sudah menyambar gitar.

Buku sebagai Istri Pertama?

Ahmad Fatoni
http://sastra-indonesia.com/

ALKISAH, ibunda Hatta pernah dibuat jengkel oleh putranya. Kejengkelan itu justru terjadi di hari perkawinan sang proklamator. Pasalnya, hadiah pengantin Hatta kepada Rahmi ternyata sebuah buku. Pada hari bersejarah tersebut, Hatta menghadiahkan kepada calon istrinya sebuah buku yang baru ia tulis berjudul Alam Pikiran Yunani. Tentu saja ibunda Hatta tak setuju. Umumnya hadiah perkawinan berupa uang, emas, atau minimal seperangkat alat shalat. Tapi bagi Hatta, buku adalah harta yang paling berharga.

Begitu erat hubungan emosional antara Hatta dan buku. Lalu ada anekdot yang mengatakan istri pertama Hatta adalah Buku. Barangkali bantal dan gulingnya adalah buku. Ke mana pun ia pergi, buku selalu menyertainya, termasuk ke pembuangan sekalipun. Pada waktu ia hendak dibuang ke Boven Digul, ia meminta izin selama tiga hari kepada petugas untuk mengepak dulu buku-bukunya yang akan dibawa serta. Buku yang dibawa ke pembuangan masa itu sebanyak 4 m3 y…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com