Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2011

Goenawan Mohamad dalam Don Quixote dan Tujuh Puluh Sajak

Akhmad Sekhu *
http://www.kompasiana.com/akhmadsekhu

Tahun 2011 adalah tahun pesta buku Goenawan Mohamad. Bisa dibilang demikian karena sepanjang 2011 dalam rangka 70 Tahun Goenawan Mohamad, Penerbit Grafiti Pers, grup Tempo, dan Komunitas Salihara, akan meluncurkan 12 buku karya Goenawan Mohamad dengan rangkaian peluncuran buku yang diselenggarakan di berbagai tempat. Kalau sebelumnya di Salihara, kali ini peluncuran buku diselenggarakan di Dia.lo.gue Artspace, Kemang, Jakarta Selatan, Rabu malam, 27 Juli 2011.

Ada dua buku yang diluncurkan. Buku yang pertama, bertajuk Tujuhpuluh Sajak, merupakan buku kumpulan sajak-sajak yang ditulis oleh Goenawan Mohamad dalam lima dasawarsa terakhir yang dipilih oleh Hasif Amini, redaktur puisi Kompas dan seorang esais. Buku ini juga menyertakan sajak-sajak Goenawan yang belum pernah dibukukan, seperti sajak “Pariksit” (1963) sampai “Gerontion” (2011). Kedua, buku yang bertajuk Don Quixote, sebuah interpretasi Goenawan dalam bentuk puisi atas cerit…

Libur

Hasif Amini
Kompas, 5 Sep 2010

Kadang saya membayangkan puisi sebagai peristiwa ketika kata-kata berlibur. Ketika bahasa beristirahat sementara dari tugas rutinnya sebagai ”kurir” atau pembawa pesan dalam proses komunikasi.

Dalam pekerjaannya sehari-hari, bahasa menjadi alat atau perangkat yang sibuk melayani para penggunanya (kliennya? tuannya?) untuk beragam keperluan. Di setiap ruang rapat atau ruang sidang, ruang kelas, laboratorium, rumah sakit, kantor berita, kedai kopi, toko serba ada, pasar ikan, pasar burung, ataupun pasar saham di pelbagai penjuru dunia, bahasa adalah instrumen komunikasi yang dipakai terus-menerus. Dan, tampaknya ia (sering) tak dibayar.

Ada saat bekerja, (mestinya) ada saat berlibur. Dalam liburan bahasa, kata-kata dan lain-lain anggota bahasa bisa melakukan aneka macam laku penyegaran diri. Tidur dan bermimpi. Bertamasya. Bercengkerama. Bernyanyi. Bergoyang. Memancing. Menyelam. Meneropong langit malam. Berziarah. Berkebun. Berpesta. Berolahraga. Bermedita…

Badai Puisi dari Belanda: Kiriman Heri Latief

Asep Sambodja
http://asepsambodja.blogspot.com/

Penyair Heri Latief membuka mata semua orang tentang kenyataan yang terjadi di Indonesia. Setahun sebelum kasus mafioso peradilan terungkap di Mahkamah Konstitusi pada Selasa, 3 November 2009, Hari Latief (2008) sudah bersuara lantang melalui puisi-puisinya yang terhimpun dalam buku 50% Merdeka. Kenyataan yang begitu telanjang tentang bobroknya aparat hukum di negeri Indonesia ini pun telah lama diteriakkan penyair Indonesia yang tinggal di Amsterdam, Belanda, ini. Dengan bahasanya yang lugas, bahkan seringkali mendobrak kaidah bahasa Indonesia untuk mendapatkan ketajaman visinya, Heri Latief tak henti-hentinya bersuara melalui puisinya yang tajam dan menikam. Salah satunya, puisi “50% Merdeka” memperlihatkan kesaksiannya yang terkesan tanpa tedeng aling-aling.

50% Merdeka

kartu sudah dibagikan
siapa yang punya kartu truf?

pada emosi yang buta huruf
media cetak corongnya cendana
semua berita dijokul obralan
jurnalistik tanpa rasa kemanusi…

KTKLN (Kartu Tanda Kerja Luar Negeri)

Syifa Aulia
http://sastra-indonesia.com/

Sebaris huruf terukir
di kartu khusus tanpa guna
tanpa makna
warta yang kembali memanah
ruang tanpa jendela
menghujam tepat di jantung
luka yang masih menganga

Kembali kami dibuat geram
dengan ancaman satu milyar
dan jeruji besi yang kekar
nadi-nadi kami berdenyar
beribu jiwa menggeletar
menghimpun kekuatan
untuk menyerukan perlawanan
demi sepotong keadilan
yang tergadaikan

Sayang…peraturan ini seperti
harga mati bagi kami BMI
siapa membangkang masuk bui
sangsi yang lebih hebat dari
pencuri dan koruptor
di Negeri sendiri

Berpuluh-puluh peraturan
berkedok perlindungan
sementara ratusan nyawa
meregang di Negeri tak bertuan
tiada dipedulikan

Peraturan yang disahkan
dengan sadar oleh
pemangku Negara
yang konon ber-Ketuhanan
yang Maha Esa
berucap sumpah
di depan sangsaka
Merah Putih kibaran Bendera
yang menghimpun janji bakti
pada Tanah Air Bumi Pertiwi
untuk Berkeadilan Sosial
Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

“Janji yang tersesat dalam lidah sendiri”

Erasure: Penulis dan Pengharapan Pembacanya

Wawan Eko Yulianto
http://sastra-indonesia.com/

Sebagian penulis harus mati dulu sebelum karyanya dibaca orang. Sebagian lagi harus nulis beberapa buku dulu sebelum akhirnya karyanya menarik perhatian orang. Percival Everett adalah salah satu di antara penulis dari golongan kedua itu. Setelah sekitar lebih dari 18 tahun menekuni dunia gores pena) , menerbitkan beberapa judul buku, akhirnya bukunya yang berjudul Erasure berhasil menjaring pembaca secara signifikan. Unik, buku yang secara struktur sangat tidak wajar dan melayangkan kritik keras terhadap dunia penerbitan dan elit sastra ini malah yang akhirnya menyukseskannya.

Erasure adalah novel yang bentuknya semacam entri jurnal, sebagaimana diakui sang tokoh sejak awal. Thelonius Ellison adalah seorang profesor di bidang creative writing dan sekaligus novelis idealis. Sebagai seorang kulit hitam, Ellison memiliki minat yang bisa dibilang jauh dari lazimnya orang kulit hitam. Novel-novel dan tulisan akademiknya menekuni teori-teori so…

Paus Merah Jambu Zen Hae, Puisi di Luar dan di Dalam Sistem Bahasa

Jamal D Rahman*
Media Indonesia, 29 Sep 2007

PUISI-PUISIi Zen Hae adalah percobaan membangun struktur puisi di dalam dan di luar sistem bahasa. Disadari atau tidak, beberapa puisi Zen Hae yang terhimpun dalam Paus Merah Jambu (Yogyakarta: Akar Indonesia, 2007) menyediakan sarana yang memadai bagi pembaca untuk mendekatinya, tetapi sebagian puisinya hanya menyediakan sarana yang amat terbatas untuk mendekatinya. Dengan kata lain, sebagian puisinya memudahkan saya memasuki inti puisi itu sendiri, sedangkan beberapa puisi lainnya menyulitkan saya masuk ke inti puisi. Memudahkan atau menyulitkan itu rupanya sangat tergantung, apakah jalinan internal puisi berada di dalam atau di luar sistem bahasa.

Kesan pertama puisi-puisi Zen Hae memaksa saya menunda membicarakan aspek tematik puisi-puisinya untuk sementara, kecuali dalam batas yang saya anggap perlu dan relevan dalam rangka membicarakan aspek teknis puisi-puisi itu sendiri. Di sini akan dibicarakan bagaimana puisi-puisi Zen Hae beropera…

Bayang-bayang Sepanjang Kenangan

Rofiqi Hasan, Kurniawan
http://majalah.tempointeraktif.com/

Potret adalah citra tak bergerak. Figur yang dia wakili, kata Roland Barthes, filsuf Prancis penulis Camera Lucida, tak hanya diam, tapi juga dibius dan diikat, seperti kupu-kupu. Tapi kita sengaja membekukan kupu-kupu itu untuk mengabadikan kenangan, menjadikannya saksi atas kehidupan, karena hidup itu pada akhirnya mati.

Banyak kenangan berlesatan di benak perupa Yogyakarta, Agung Kurniawan, ketika membuka album foto keluarganya beberapa tahun lalu. Kenangan itu kini dia eksplorasi dalam berbagai media pada pameran The Lines that Remind Me of You di Kendra Gallery, Seminyak, Kuta, Bali, sejak pekan lalu hingga 22 Mei nanti. Inilah pameran tunggal pertamanya setelah lima tahun vakum tampil solo.

Salah satu kenangan yang ia bangkitkan dalam sebuah karya adalah adegan pada masa kecilnya ketika bersama saudara-saudaranya mengikuti suatu pawai. “Saya ingat itu acara Agustusan, tapi lupa kapan dan di mana,” ujarnya.

Karya berjudul…

Indonesia, Puisi, dan Teks Sejarah

Sihar Ramses Simatupang
http://www.sinarharapan.co.id/

Bangsa yang kehilangan teks sejarah dan puisinya tak lepas dari kondisi warga negara yang saat ini kehilangan nurani dan akal sehatnya.

Teks sejarah dan puisi sangat paralel dengan nurani serta akal sehat. Ketika masyarakat kerajaan dan tiap suku di daerah mengalami tekanan penjajahan oleh Belanda, sikap kebersamaan untuk menyatukannya sangatlah diperlukan.

Sumpah Pemuda, sekalipun banyak versi, naskahnya ternyata beriring dengan teks ikrar, teks lagu, hingga teks puisi para penyair di masa itu. Sumpah Pemuda menjadikan semua gugusan pulau yang dipisahkan oleh bentangan laut itu menjadi senasib dan sepenanggungan.

Ikrar pertama ini terjadi di tengah tekanan fisik, penjajahan, dan dentum perang yang masih menerjang. Untuk itu, muncullah ikrar kedua, kali ini merupakan sebuah format kedaulatan dan kemerdekaan berbangsa.

Semangat bersama itu mendapatkan formatnya. Lalu, Chairil Anwar melontarkan kegembiraan, keyakinan, juga sambutan k…

Hikayat Teungku Di Meukek: Tinjauan Teori Sastra Post-Kolonial

Istiqamatunnisak
http://wa-iki.blogspot.com/

Hikayat Teungku di Meukek adalah sebuah teks sastra Aceh yang menukilkan berbagai peristiwa sejarah dan penuh pesan sosial dan politik. Tulisan ini menjelaskan tentang pengaruh kolonial dalam hikayat tersebut. Naskah kuno yang di dalamnya banyak mengandung berbagai nilai budaya, baik tentang kepercayaan, adat-istiadat, filsafat, pendidikan, ekonomi, sosial dan politik, bahkan sejarah. Pembedahan, pengkajian, dan pengungkapan berbagai warisan nilai budaya di dalamnya diperlukan sebagai upaya mewujudkan cita-cita pembangunan bangsa. Hikayat Teungku di Meukek merupakan naskah lama yang menggambarkan perlawanan rakyat Aceh di Meulaboh terhadap hulubalang yang didukung oleh Belanda. Hikayat ini ditulis untuk melihat bagaimana perlawanan masyarakat Aceh terhadap kolonial.

Pendahuluan

Karya sastra adalah refleksi pengarang tentang hidup dan kehidupan yang dipadu dengan gaya imajinasi dan kreasi yang didukung pengalaman dan pengamatannya atas kehidu…

‘Tiga Jagoan’ dan Orang-Orang Merdeka

Eep Saefulloh Fatah
http://www.bookoopedia.com/

Sastra, Kebebasan dan Peradaban Kemanusiaan; merupakan buku karya sastra yang dihimpun oleh 3 penulis berlatar pemikiran progresif, ideologis, visioner, dan humanis.

Buku himpunan esai, prosa liris, puisi, cerpen, dan esai liris; telah menegaskan fungsi sastra sebagai alat pelurusan sejarah, pembebasan dan perjuangan bagi nilai-nilai kemanusiaan.

Heri Latief, Mira Kusuma, dan Leonowens SP; adalah 3 serangkai sahabat yang selama ini berkonsentrasi dalam perwujudan karya-karya sastra sebagai alat pencerdasan dan pembebasan di bidang: politik, ekonomi, budaya, lingkungan, negara, kekuasaan, gender, dan globalisasi.
***

‘Tiga jagoan’ kita berkolaborasi menerbitkan buku yang Anda pegang ini. Lalu, apa yang bisa saya bilang? Kata pengantar sederhana ini adalah jawabannya.

Orang-orang Merdeka

Dunia perbukuan di Indonesia dalam lebih dari satu dasa warsa terakhir telah berkembang secara dramatis. Banyak sekali buku diterbitkan dalam periode ini d…

Sastrawati Menulis Identitas Seksual

(Ditulis kembali dari apresiasi novel Mahadewa Mahadewi)
M Fadjroel Rachman*
Media Indonesia, 02 Sep 2007

APAKAH para sastrawati generasi abad XXI di Indonesia, sebagian seperti Ayu Utami, Djenar Mahesa Ayu, Dinar Rahayu, Nova Riyanti Yusuf (Noriyu), Mariana Amiruddin, dan Fira Basuki, mengungkapkan persoalan seksualitas untuk eksploitasi seksual semata? Samakah karya mereka dengan karya pornografi jalanan, cetak maupun elektronik di kaki lima di seluruh penjuru Tanah Air, dan pantas dicap menganut eksploitasi seksual sebagai standar estetika? Penulis ingin mengenali dan mencatat bagaimana para sastrawati muda Indonesia mengaktualisasi diri. Dengan apresiasi tentu saja, sebagai apresiator.

Marilah dengan kepala dingin kita apresiasi secara singkat sebagian karya Noriyu, Ayu Utami, Djenar Mahesa Ayu, dan Fira Basuki. Dimulai dari Mahadewa Mahadewi (MM), karya Noriyu, seorang dokter umum, ahli kejiwaan, penulis skenario film Merah itu Cinta. Bila Anda mengutuki dan meratapi zaman ini, sek…

Negeri Kita Belum Merdeka

Wawan Eko Yulianto*
http://oase.kompas.com/

“NEGERI KITA BELUM MERDEKA!” begitulah kira-kira bunyi headline dua koran lokal menyusul “pemerkosaan” sebuah monumen kemerdekaan hasil sumbangan yang baru diresmikan.

Dua minggu sebelum peringatan hari kemerdekaan, para veteran yang dulunya tergabung ke dalam tentara pelajar mengundang bapak walikota dan para wartawan ke sebuah sudut jalan di sebuah pemukiman.

Di sana, wakil dari para veteran itu mengatakan kepada bapak walikota, “Kami sumbangkan Monumen Merdeka untuk kota kita . . . .” Sambil berkata, dia menarik kain yang menutupi sebuah bangun yang menjulang agak tinggi. Kain tersibak dan terlihatlah sebuah patung. “Kami harap, monumen ini bisa menjadi peringatan bagi generasi muda agar mereka menghargai kemerdekaan yang telah kami perjuangkan dan agar mereka bisa menggunakannya dengan sebaik-baiknya.”

Bapak walikota menyatakan kegembiraannya dan berjanji akan mengelola monumen ini dengan sebaik-baiknya. Para wartawan mencatat kata-kata …

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com