Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2011

Untuk Apa Memetakan Penyair Sumatera?

Udo Z. Karzi*
Cybersastra.net, 5 Sep 2003

Aku membaca esai Isbedy Stiawan Z.S., “Jakarta dan Tabung Orba” (Lampung Post, 3 Agustus 2003). Isbedy menyikapi acara Temu-Dialog Penyair se-Sumatera di Padang, Sumatera Barat, 8–13 Agustus 2003. Isinya sama seperti kebanyakan esai yang terbit di koran-koran: daftar sekian banyak nama penyair, media, dan institusi kepenyairan.

Pola serupa juga aku temukan dalam esai Gus tf, “Kepenyairan Sumatera” (Media Indonesia, 3 Agustus 2003). Penyair asal Solok, Sumatera Barat, itu menyebut nama-nama yang secara kebetulan muncul di media massa, terutama yang terbit di Jakarta. Seolah-olah, yang disebut penyair itu hanyalah mereka yang karya-karyanya dimuat di koran Jakarta atau kumpulan puisinya diterbitkan oleh penerbit-penerbit besar.

Ini sebuah kekeliruan. Isbedy pun demikian, setidaknya, dalam beberapa esainya sehingga muncul penegasan semacam ini, “Saya sependapat dikatakan Agus Hernawan (baca: “Mau Apa Temu-Dialog Penyair Sumatera”, Padang Ekspres, 27 …

Rendra, “Bangsa Kita Kian Terpuruk Dihantam Utang dan Korupsi”

Soni Farid Maulana
Pikiran Rakyat, 2 Agus 2008

Bangsa ini seperti dadu
terperangkap dalam kaleng utang
yang dikocok-kocok oleh bangsa adikuasa
tanpa kita berdaya melawannya.
Semua terjadi atas nama pembangunan
yang mencontoh tatanan pembangunan
di jaman penjajahan

TUJUH larik puisi di atas dipetik dari puisi Maskumambang karya penyair Rendra. Puisi tersebut ditulis pada 4 April 2006 lalu di Cipayung Jaya Depok Jawa Barat. Puisi yang ditulis sebelum gerakan reformasi digulirkan, yang berhasil menumbangkan kekuasaan Soeharto itu, sangat kontekstual dengan keadaan bangsa dan negara kita saat ini yang kian hari kian terpuruk oleh utang negara yang kian bengkak dan kian memar oleh tindak pidana korupsi yang dilakukan sejumlah oknum wakil rakyat dan oknum abdi negara yang kian menjadi-jadi di berbagai lapisan instansi pemerintah.

Berkaitan dengan itu, Rendra mengatakan bahwa gerakan reformasi yang terjadi di negeri ini secara esensial ternyata tidak menghasilkan apa-apa selain menghasilkan koruptor-k…

Tanah Merah

Dwicipta
Kompas, 13 Jan 2008

Ketika ia bersandar pada pagar kapal yang akan membawanya pergi dari Tanah Merah, seluruh peristiwa yang telah dialaminya hampir setahun sebelumnya bagai berputar kembali di pelupuk matanya. Hidupnya sendiri adalah rangkaian petualangan demi petualangan yang tak berkesudahan. Semula ia adalah seorang pahlawan untuk negerinya, negeri Belanda yang telah menguasai bumi Hindia Belanda selama ratusan tahun. Semua orang yang tahu atau pernah mendengar tentang peristiwa Banten yang menggegerkan itu sudah barang tentu telah mendengar keharuman namanya.

Oleh tindakan kepahlawanan itu Pemerintah Hindia Belanda telah menganugerahkan sebuah bintang kehormatan kepadanya. Orang-orang mengelu-elukannya. Ia mendapatkan undangan pesta dari para pejabat militer Batavia dan orang-orang yang ingin mendengarkan kisah pertempuran yang telah ia alami, bunyi letusan senapan dan jerit mengerikan ketika tubuh meregang nyawa. Sungguh, memabukkan.

Beberapa bulan setelah ia berhasil menum…

Istri Pergi ke Saudi

Muhammad Amin
Seputar Indonesia 11/21/2010

Sewaktu saya sedang membolak-balik koran terbitan hari Minggu, mencari-cari lowongan pekerjaan yang cocok, tiba-tiba istri saya sudah berada di hadapan saya. Saya melongo padanya. Sepertinya ada sesuatu hal penting yang ingin ia sampaikan. Sejenak saya coba menerka-nerka. Mungkin tagihan air dan listrik yang nunggak. Saya rasa bukan, karena saya masih ingat kemarin baru membayarnya, meskipun itu uang tabungan terakhir kami. Atau masalah sekolah anak kami, Siska Paramitha, yang sekarang duduk di bangku SMA mulai tersendat masalah biaya. Dan semua hal dugaan saya berkaitan dengan masalah uang. Karena semenjak saya di-PHK perekonomian keluarga terasa carut-marut.

Saya masih menunggu apa yang ingin ia sampaikan. Namun tampaknya ia sangat ragu-ragu untuk menyampaikannya. Lalu dengan sangat hati-hati akhirnya istri saya buka mulut juga.

“Bang, aku mau minta izin.” katanya masih diliputi keraguan.

“Mau ke mana?” tanya saya, tak bisa menduga sebelumnya.

“A…

MEMBACA DUNIA NUREL *

Marhalim Zaini **
http://sastra-indonesia.com/

“Ada logika-logika aneh dan asing, ada sentakan pemberontakan yang ajaib, ada teriakan-teriakan keras dan dalam, ada hasrat untuk membangun dunia sendiri. Ada lompatan-lompatan makna dalam bahasa yang berguling-guling, ada jerit dari jerih kata yang diperas berulang-ulang, ada laut yang saling berbalik arah debur ombaknya.”

Demikian komentar saya via sms, beberapa waktu lalu saat menerima dan membaca sejumlah buku (berukuran) mungil yang dikirim oleh Nurel Javissyarqi. Buku-buku yang hemat saya lahir dari kegelisahan spiritualitas khas para pejalan sunyi, yang bergumam, berbisik atau terkadang menjerit dalam lengking panjang tak berujung. Ada dalam bentuk surat-surat, aforisma, syair, puisi, kisah, dan sejumlah bentuk yang tampaknya sedang membangun frasa nafasnya dalam lorong hidupnya sendiri. Dan saya kira, komentar saya di atas, juga kelak berlaku dalam pembacaan saya terhadap sebentuk buku lain yang juga ditulis oleh Nurel, berjudul Kaji…

Rendahnya Apresiasi Akademik terhadap Karya Sastrawan Kalsel

Sainul Hermawan
http://www.radarbanjarmasin.co.id/

Salah satu isu penting yang saya tawarkan dalam diskusi sastra yang diselenggarakan oleh Radar Banjarmasin pada 30 Desember 2010 di Minggu Raya Banjarbaru adalah apakah kemeriahan sastra di Kalsel yang ditandai dengan kegiatan aruh sastra, festival, tadarus, sayembara dan pelatihan penulisan, penerbitan buku dan peluncurannya, dan sebagainya berhasil menciptakan publik pembacanya? Asumsi saya bahwa satra Kalsel tidak terlalu banyak ditekuni dalam publik pembacaan yang meriah tampaknya memang perlu disikapi bersama sehingga pada pelaksanaan kegiatan bersastra di tahun ini dan tahun-tahun yang akan datang perlu menguatkan kegiatan yang berorientasi pada perayaan pembacaan dalam pengertian yang luas, yaitu bukan sekadar dibaca untuk pertunjukan, melainkan juga pembacaan dalam pengertian memasukkan dalam materi pembelajaran sastra dan bahasa di sekolah dan perguruan tinggi serta upaya pembacaan dalam pengertian transformatif-intertekstual a…

Saatnya Penulis Muslim Menggebrak

Harie Insani Putra
http://www.radarbanjarmasin.co.id/

Banyak orang ingin menulis tapi tidak tahu cara memulainya. Mereka bilang menulis itu susah, sekalipun kenyataannya memang demikian. Tapi menulis juga adalah disiplin ilmu yang bisa dipelajari. Jika dilakukan terus-menerus ditambah kemauan belajar yang tinggi semua orang pasti bisa melakukannya.

Umumnya belajar menulis bisa dilakukan dengan dua cara, belajar langsung kepada para penulis atau belajar dari buku-buku panduan menulis. Untuk pilihan kedua, saya ingin membicarakan buku berjudul “Saatnya Penulis Muslim Menggebrak (SPMM)”, ditulis oleh Aliansyah Jumbawuya, terbitan Tahura Media.

Seperti anjuran banyak para penulis lainnya, Aliansyah turut menganjurkan bahwa membaca adalah langkah awal jadi penulis. Pertanyaannya adalah, membaca yang bagaimana agar membantu lancarnya proses penulisan?

Dalam Teori Kendi yang ditulis Aliansyah, seseorang yang hobi membaca, Insya Allah dia tidak akan terlalu kesulitan mencari ide dan mengembangkan …

LABELS: SURAT SENIN PAGI

Tentang Perempuan Tua dalam Rashomon
A.S. Laksana
http://cerpenkompas.wordpress.com/

31 JANUARY 2011

Nama “Surat Senin Pagi” saya pilih karena terdengar enak. Meski surat pertama ini baru muncul pada Senin sore, untuk kesempatan berikutnya, saya akan berusaha ia muncul tiap Senin pagi. Dan ini surat pertama.

Teman-teman,

Untuk melatih diri bermental baja, anda mungkin bisa mencontoh Dadang Ari Murtono. Pada 5 Desember 2010, cerpennya yang berjudul Perempuan Tua dalam Rashomon dimuat oleh Lampung Post. Sejumlah orang menyatakan bahwa cerpen tersebut melulu jiplakan dari cerpen Rashomon karya Akutagawa Ryunosuke. Perdebatan sengit berlangsung di jejaring sosial facebook dan twitter. Sungging Raga berusaha membuktikan plagiarisme Dadang dengan menjajarkan paragraf-paragraf yang identik dalam dua cerpen Rashomon tersebut.

Mengaku mendapatkan desakan dari kawan-kawannya untuk menanggapi suara-suara sengit itu, Dadang menulis pembelaan terhadap Rashomon versinya–meski sebenarnya ia “ingin membiark…

Mengenal lebih dekat Aryad Indradi

Terbitkan Buku, Digosipkan Jual Tanah
Suroto
http://www.radarbanjarmasin.co.id/

Wajahnya yang renta terlihat sekali ketika Arsyad Indradi berbincang dengan Radar Banjarmasin di rumahnya jalan Pramuka Banjarbaru. Sambil membaca koran Harian Radar Banjarmasin Arsyad Indradi menjawab beberapa pertanyaan wartawan koran ini. Lantas siapakan Aryad Indradi yang dikenal sebagai “Si Penyair Gila” tersebut.

Umurnya sudah berkepala 6, namun semangatnya masih seperti umur 20 tahun. Itulah “Si Penyair Gila” Arsyad Indradi. Salah satu tokoh sastrawan Banjarbaru yang sebentar lagi akan mendapatkan penghargaan dari Gubernur Kalimantan Selatan, Rudy Ariffin di bidang sastra.

Saat radar Banjarmasin menyambangi rumahnya kemarin siang, ternyata yang bersangkutan sedang asik membaca koran Radar Banjarmasin. Sebab sebagai seorang pensiunan pegawai, waktunya lebih banyak berkumpul dan bersantai dengan keluarga di rumah. “Saya sekarang lebih banyak di rumah, membuka internet dan terus intens untuk menulis puisi. …

Publikasi Sastra: Surat Kabar, Tabloid, Laman, dan Majalah

Mahmud Jauhari Ali
www.radarbanjarmasin.com/

Hari ini, tanggal 29 Maret 2009, saya tercengang dengan adanya tulisan berjudul Bengkel Sastra di Kotabaru yang terbit di SKH Radar Banjarmasin. Tulisan itu merupakan sebuah tanggapan terhadap tulisan berjudul Sastrawan Palgiat Vs Sastrawan Gila Hormat karangan M. Nahdiansyah Abdi dengan tanggal terbit 22 Maret 2009 di surat kabar harian yang sama. Mengapa saya tercengang? Hal itu disebabkan dalam tulisan itu terdapat pemublikasian kegiatan Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan yang bernama bengkel sastra. Pemublikasian ini sebenarnya juga merupakan dokumentasi pertama kalinya yang dapat dibaca oleh khalayak ramai atas kegiatan UPT Pusat Bahasa tersebut di Kalimantan Selatan oleh seorang Helwatin Najwa. Mengapa pula saya katakan sebuah dokumentasi yang pertama kalinya? Karena, selama ini Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan belum pernah mendokumentasikan sendiri kegitan-kegiatannya di media massa yang disaksikan oleh masyarakat luas di…

BENGKEL SASTRA DI KOTABARU

Helwatin Najwa
www.radarbanjarmasin.com/

Berawal dari jalan-jalan ke Balai Bahasa Banjarmasin menonton pelatihan Bengkel Drama pada tahun 2007 lalu, saya mengetahui ternyata ada juga program lain yaitu Bengkel Sastra. Untuk mendapat bantuan dan perhatian yang lebih maksimal dalam membina siswa SSSI Kotabaru, saya berkirim surat kepada Balai Bahasa agar Kotabaru mendapat jatah untuk program Bengkel Sastra. Tanggapan yang saya terima positif, akan tetapi rogram yang semula akan dilaksanakan tahun 2008 itu tertunda karena adanya kendala teknis dari Balai Bahasa Banjarmasin. Sehingga baru tahun ini kegiatan Bengkel Sastra di Kotabaru berlangsung, yaitu mulai tanggal 16 s.d. 21 Maret 2009.

Kegiatan Bengkel Sastra di Kotabaru yang dibuka oleh Asisten 1 dan ditutup oleh Wakil Bupati Kotabaru ini, diikuti oleh 30 orang siswa setingkat SLTA (SMA,SMK, dan MA). Para pembimbing adalah Agus Yulianto, Ali Syamsudin Arsi, Eko Suryadi WS dan Helwatin Najwa ditambah dengan pengarahan sastrawan/seniman, S…

SASTRAWAN PLAGIAT VS SASTRAWAN GILA HORMAT

M. Nahdiansyah Abdi
www.radarbanjarmasin.com/

Dalam jagat kesusastraan, setidaknya ada dua penyakit kronis yang bisa menjangkiti si sastrawan, yaitu plagiat dan gila hormat. Bagi sementara orang, hal ini bisa jadi menjijikkan tapi mungkin juga menggelikan. Ketimbang menghujat dan menghakimi, penulis tertarik untuk mencari tahu apa yang melatarbelakangi seorang sastrawan melakukan tindak plagiat di satu sisi dan di sisi lain, tergila-gila pada penghormatan. Tulisan ini juga merupakan apresiasi terhadap tulisan Mahmud Jauhar Ali di RB, Maret 2009, yang bertajuk Anti Kritik Memadamkan Cahaya Pengetahuan.

Plagiat

Dalam hiruk pikuk dunia sastra, kadang muncul kasus-kasus plagiat. Berbeda dengan kasus pengaruh atau copy master yang mengusung kode etik, kasus plagiat minim, bahkan meniadakan ekspresi pribadi. Yang terbaru, saya temukan di sisipan Kaki Langit majalah Horison edisi Desember 2008. Dua puisi siswa dari sebuah daerah di Kalimantan Selatan mencaplok puisi Gugur karya WS. Rendra dan pu…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com