Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juni, 2010

Sajak-Sajak Heri Latief

http://www.sastra-indonesia.com/
Protes!

zaman ini dibilang berwarna hijau dollar
semua warna menjual diri di kotak suara

rakyat cuma bisa protes di dunia maya
pejabat dan makelar sibuk cari proyek

masa depan suram generasi pemikul hutang
pewaris segala kebusukan rezim yang korup

demokrasi semu dijadikan kebanggaan
perbedaan kelas itu kenyataan boss!

siapa yang miskin pasti tau arti kelaparan
klub super kaya membeli semua yang bisa dibeli

lihatlah potret buram bangsa terpedaya
sampai saat ini hanya mengulang cerita lama

Amsterdam, 14 Juni 2010



Fakta di Belanda

rasisme itu tersesat di sistem liberal
labilitas pemilih terbujuk rayuan maut
kepincangan sosial di eropa jadi tumbal
siapa yang ketakutan kehilangan identitas
membisu jutaan orang berdarah campuran

Amsterdam, 12 Juni 2010



Musim Semi

apartheid di belanda

Amsterdam, 12 Juni 2010



Lupa ya?

dia masuk tadi pagi dalam kedaan sakit berat, mulutnya berbusa. menjelang magrib ia dikeluarkan dari kamar isolasi, wajahnya kusut kayak benang kusut, mulutnya menggumam …

Senjakala Tamansari

M.D. Atmaja
http://www.sastra-indonesia.com/

Hari ini adalah Kamis, di sore hari ketika darah telah bergejolak karena kabar angin yang memang selalu terdengar sebagai lagu duka bagi seorang lelaki pendosa. Dia memang selalu bangga menyebut dirinya sebagai lelaki pendosa, lelaki yang dilumuri dengan kesalahan di setiap tapak kehidupan. Memang, dia sengaja. Tapi, di dalam hatinya diniatkan agar namanya yang dia sematkan itu mampu mengingatkan, kalau dirinya hanya seorang lelaki pendosa dan musti berjalan jauh untuk menjadi pembenaran atas pemahaman sampai dia yakin ketika bertemu denganNya, bahwa dia bukan seorang lelaki pendosa. Bukan manusia yang dialiri darah kesalahan.

Hari Kamis, menjadi hari perjalanan bagi si Lelaki Pendosa untuk melewati perjalanan waktu bersama dengan seorang Perempuan Pendoa yang pernah dia temui ketika perjalanannya mengantarkan pada surau kecil yang bercahaya. Entah dalam alur yang bagaimana, Dia yang memiliki kuasa atas alur kehidupan telah menggariskan keduan…

Menari di Padang Prairi

Abidah El Khalieqy
http://www.jawapos.co.id/

OKE! Aku menyerah. Teruslah menari seluas padang prairi. Karena kau adalah benih adalah hujan adalah angin dan matahari. Tunas cinta menyembul darimu per detik. Tak ada jemu. Meski telah kubabat rumputan sabanamu, kuluapkan sungai-sungaimu hingga kering dan kutebas pohonan rimba rayamu. Meski telah kututup pintu-pintu dan kukafani sejarahmu. Meski telah kuhapus huruf-huruf yang mengisahkan namamu.

”Salam. Aku datang lagi…!”

”Tak bisakah meninggalkanku sekejap saja?”

”Atas alasan apa? Matahari terus bersinar tak peduli lilin-lilin dinyalakan atau dipadamkan.”

”Tapi aku sudah di Mars dengan matahariku sendiri.”

”Tak masalah. Lebih banyak matahari lebih nyala dunia ini. Benderang di hati.”

”But love is country with map.”

”Yups! Earth and Mars adalah peta wilayah cinta. Kita penghuninya.”

Percuma mendebatmu, Sayang! Lagi pun cinta itu sesuatu yang terberi. Sekuat apa menolaknya, kalau ternyata ia tak minta apa-apa selain hatimu. Sekarang pikirkan cara ba…

Puisi Thukul Bukan Sekadar Modal Dengkul

Alex R. Nainggolan
http://www.sinarharapan.co.id/

Penerbitan ulang kumpulan puisi Wiji Thukul Aku Ingin Jadi Peluru oleh Indonesiatera, barangkali sedikit unik. Di tengah riuh reformasi, di mana keran kebebasan ekspresi seni yang terbuka lebar, puisi-puisi Thukul, yang acapkali bernada protes itu, mungkin terkesan biasa, bahkan tak ada artinya sama sekali. Kita pun sama-sama tahu, jauh sebelum Thukul menulis sejumlah puisi yang bernada kecaman, W.S. Rendra, di paruh dekade 70-an sudah menuliskan dalam Potret Pembangunan dalam Puisi, atau Emha Ainun Nadjib dengan Sesobek Catatan Buat Indonesia. Kegeraman para penyair itu, merupakan saksi abadi, yang membungkus segala ketimpangan sekaligus protes terhadap kondisi sosial-ekonomi di tengah masyarakat.

Kegeraman semacam itu, dengan mencoba untuk memotret gap-gap di sekeliling, terangkum pula dengan pelbagai tema, baik itu kaya-miskin, baik-jahat, kediktatoran, kesewenangan kekuasaan. Memang pijakan awal dari semua denyut aura kalimat yang tum…

”Si Buta dari Gua Hantu”: Cinta, Dendam, Petualangan

Anton Kurnia*
http://www.sinarharapan.co.id/

Cinta yang terluka dan balas dendam sebagai api yang menyalakan semangat untuk mengarungi hidup penuh petualangan bisa kita temui dalam serial komik silat Si Buta dari Gua Hantu karya Ganes Th.
Si Buta, sejak kelahirannya pada 1967 lewat terbitan UP Soka Jakarta, tak pelak merupakan tokoh komik lokal paling populer. Namanya terus bergema sejak diangkat ke gedung bioskop pada dasawarsa 1970-an dengan mencuatkan mendiang Ratno Timoer sebagai aktor pemerannya hingga ke layar kaca dalam zaman sinetron dewasa ini. Saat ini sebuah sinetron yang dibuat berdasarkan salah satu episode komik petualangan Si Buta masih diputar di sebuah stasiun televisi swasta nasional.

Kisah Si Buta dari Gua Hantu diawali oleh dendam yang tak terbalas. Barda Mandrawata, seorang pemuda tani di sebuah desa pelosok Banten, tengah menanti hari pernikahannya dengan Marni Dewianti saat seorang buta yang sakti tapi telengas, Si Mata Malaekat, mampir di desanya dan berbuat onar. …

SENI TRADISI: BERTOLAK DARI TEATER MISKIN

Balok Sf
http://terpelanting.wordpress.com/

Ketika seni tradisi, ludruk, wayang, maupun kentrung, dihadapkan pada masyarakatnya bukan lagi sebagai suatu tontonan yang menjadi tuntunan yang sebenar, tetapi hanyalah dianggap sebagai “seni pinggiran” yang sifatnya hanyalah sekilas, hiburan, temporer. Seni Tradisi tidak bermakna lagi di hati mereka. Inilah yang dinamakan tuntunan yang menjadi tontonan. Seperti yang pernah kita ketahui bahwa awal muncul seni tradisi banyak memuat ajaran-ajaran moral, baik tersurat maupun tersirat.

Dalam sejarahnya, yang pernah kita ketahui, bahwa seni tardisi, ludruk, wayang, maupun kentrung lahir dari religiusitas komunal yang membutuhkan komunikasi langsung dengan penontonnya. Antara aktor, penonton maupun pekerja seni menyatu dalam religiusitas berkesenian. Mereka merasa memiliki dan dimiliki. Seperti ada suatu kesepakatan yang harus diakui dan dipatuhi, dalam bentuknya maupun penyajiannya. Di sini seolah-olah masyarakatlah yang mencipta kesenian itu. Akhi…

Menafsir Mimpi Generasi Terkini

Judul : Orde Mimpi
Penulis : R Giryadi
Penerbit : Dewan Kesenian Jawa Timur-Bayumedia
Tebal : 236 halaman
Cetakan : Cetakan I, November 2009
Peresensi : Risang Anom Pujayanto
http://www.surabayapost.co.id/

Apakah yang tersisa dalam akhir pementasan drama?

Aristoteles pernah meniscayakan efek yang ditinggalkan pementasan teater laiknya adanya reaksi kimiawi diri—katharsis, penyucian diri—bagi seluruh ekologi di sekeliling pementasan sandiwara. Piranti lain mengatakan adanya stimuli tinggi neurosis yang sanggup merusak jaringan otak apabila gagasan, apresiasi dan kritik, pasca memaknai lakon yang dipentaskan, tidak tersalurkan atau dikomunikasikan dengan baik dalam arena diskusi lisan maupun dalam bentuk tulisan. Sementara dalam jagad intertekstualitas, akhir pementasan teater dimaknai sebagai bukan akhir sebuah proses, melainkan justru merupakan babak awal pementasan teater baru.

Secara garis besar ketiga fitur yang tertera di atas telah merepresentasikan turunan gambar ideal dalam akhir suatu …

Bahasa Daerah, Karya Sastra, Amnesia

Ahmad Syubbanuddin Alwy
http://cetak.kompas.com/

Setiap bahasa-sebutlah bahasa Sunda, Jawa, Batak, Belanda, dan lain-lain-adalah produk pengalaman sejarah yang terpisah. Ia merupakan produk organisasi-organisasi masyarakat, sastra, spesialisasi budaya, dan pandangan-pandangan metafisik. (Prof Benedict Anderson)

Susastra atau kesusastraan merupakan bagian penting dari implementasi salah satu unsur eksploratif bahasa, dalam konteks bahasa mana pun. Tak terelakkan juga, kelak susastra menjadi instrumen pergumulan proses kreatif dari mana bahasa itu tumbuh sekaligus dikembangkan. Kehadiran karya-karya sastra di situ kemudian menandai berbagai aktivitas penciptaan gagasan ataupun pencapaian artistik para pengguna bahasa. Dalam perspektif ini, teks karya sastra menegaskan eksistensi bahasa yang mempertemukan interaksi teks dari sosial, politik, budaya, tradisi, hingga religiositas serta representasi sejumlah tafsir terhadap perubahan zaman.

Karya sastra berbahasa daerah tidak saja berfungsi ser…

Upacara Menunggu Kunang-kunang

Indra Tranggono
http://entertainmen.suaramerdeka.com/

SEJAK pindah di kota Glazy, aku sering disekap kesunyian yang begitu kukuh, begitu perkasa. Apalagi bila senja mulai merambati langit, merambati perbukitan, merambati lembah-lembah, merambati gerumbulan pepohonan pinus, tangan-tangan kesunyian yang muncul dari pori-pori waktu, memelukku kuat-kuat, hingga aku seperti terjerat. Lalu, malam menyempurnakan dengan kegelapan. Dan satu-satunya hiburanku hanyalah melihat tarian kunang-kurang terbang; jumlahnya bisa ribuan bahkan bisa jutaan.

Telah melekat kuat di benak ucapan Ayah, kunang-kunang itu jelmaan dari kuku orang mati. Bertahun-tahun cerita Ayah itu telah menjelma horor di kepalaku, bahkan sesudah kubaca di buku pelajaran: kunang-kunang adalah serangga malam yang gemar memamerkan cahaya. Dan anehnya, aku lebih memercayai dongeng Ayah daripada buku pelajaran yang membosankan. Meski pun aku tahu, waktu itu Ayah cuma ingin menakut-nakuti, agar aku tidak berlama-lama bermain di kegelapa…

Taufik Ikram Gelar Kembara Sajak Tersebab Aku Melayu

Yurnaldi
http://oase.kompas.com/

Sastrawan Taufik Ikram Jamil, akan membacakan sajak-sajak yang terhimpun dalam buku sajaknya yang terbaru tersebab aku melayu , di Bentara Budaya, Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, hari Selasa (22/6/2010) malam. Ini merupakan tempat pertama yang dikunjunginya dalam kegiatan yang dinamakannya kembara sajak tersebab aku melayu. Beberapa tempat akan dikunjunginya di Sumatera dan Jawa dalam kegiatan serupa sampai Agustus mendatang.

Ikram akan membacakan sembilan sajaknya dengan masa sekitar satu jam. Di antara sajak yang dibacakannya berisi tentang perspektif kejayaan Melayu untuk masa kini dan bagaimana memanfaatkannya seperti dalam sajak gurindam bukit siguntang (sriwijaya,Red.), catatan terakhir oleh raffles, di sungai siak, dan orang asing rupanya aku. Ia juga membawa dialog keruntuhan Majapahit melalui sajak hanya karena aku bukan seorang jawa (biografi dara petak). Dalam membacakan sajak, ia dibantu multimedia.

“Inti acara ini adalah silaturahim dengan me…

Babi dalam Dompet

A Rodhi Murtadho
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Dompet lengket di saku celana. Babi terus mendengkur. Paijan terus berjalan dari rumah ke rumah. Sales. Bukan kerja yang sembarangan. Tak semua orang bisa menekuni profesi ini. Paling tidak harus punya mulut yang kuat bicara. Lidah yang pandai bersilat. Tatapan mata meyakinkan. Bau badan tidak kecut. Baju rapi. Sepatu mengkilat. Senyum menawan dengan gigi putih dan bau nafas tidak apek. Potongan klimis biasanya ikut mendukung.

Setiap kali Paijan mengetuk pintu, dia harus memegang erat dompetnya. Setiap ketukan mengakibatkan dengkur yang keras Babi yang ada di dompet. Kalau sampai tiga kali lebih ketukan, biasanya Babi itu berusaha meloncat keluar. Menggedor pintu dan menyeruduknya hingga jebol.

“Selamat siang, Bu!” ucap Paijan lembut.

“Siang, ada apa ya?” sahut Salamah, Ibu rumah tangga. Leher, tangan, dan kaki berkilatan penuh dengan emas. Biar paras tak begitu lembut tapi kilau benda yang ada di tubuhnya membuat para lelaki berp…

Politik Kanonisasi Sastra

Saut Situmorang
http://www.facebook.com/note.php?note_id=45356609697

Dalam dunia sastra Indonesia banyak pengarang sangat yakin bahwa apa yang mereka sebut sebagai “substansi” sastra, yang konon universal, bebas-nilai (apolitis), dan abadi, itu memang ada dan merupakan satu-satunya faktor penentu baik-tidaknya, berhasil-tidaknya, sebuah karya sastra menjadi sebuah karya sastra. Contoh yang paling sering saya alami adalah menerima pernyataan “Buktikanlah dengan karya!” setiap kali saya berusaha mendongeng tentang pentingnya menyadari politik sastra yang mempengaruhi sastra di manapun terutama di Indonesia, seolah-olah apa saja karya yang mereka produksi memang secara otomatis sudah sangat penting nilainya bagi sejarah sastra. Ada sementara dari para pengarang romantik ini memakai istilah lain untuk maksud yang sama, yaitu “sublim”. Sebuah puisi yang menjadi, misalnya, adalah sebuah puisi yang “sublim”, kata mereka. Tapi para pengarang bakat alam yang romantik ini selalu lupa untuk mengel…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com