Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2010

Bermain Ski Di Kepala Botak Afrizal Malna

Dwi S. Wibowo
http://sastrasaya.blogspot.com/

Sehari. Aku bermimpi aku jadi manusia, Dada. Sehari.
Dada. Sehari. (Afrizal Malna: “dada”)

Naomi srikandi, dalam pengantarnya (Manusia Grogi Mebaca Puisi-Puisi Afrizal Malna) dalam acara launching buku kumpulan puisi afrizal malna yang dicetak ulang oleh penerbit omah sore menyebut bahwasanya membaca puisi-puisi afrizal malna adalah keluar dari taman bacaan sastra yang manyajikan keindahan namun memasuki tong sampah, toilet umum, dan slogan-slogan busuk yang terpampang di kota-kota. Yang justru menyajikan kesan spontan yang acak adul. Tidak seperti kebanyakan penyair lain yang betah berlama-lama membuai diri dalam kenikmatan berbahasa, afrizal justru terkesan meledak-ledak dalam ekspresi berbahasa dalam sajak-sajaknya akan kita jumpai metafor-metafor yang terlampau jauh. Bahkan bisa jadi akan sangat susah dicerna, karena memang kerap kali dalam puisi-puisi afrizal malna terdapat simbolisme-simbolisme yang bisa dibilang baru. Sehingga akan lebi…

estetika “tanah api”

MENGGAGAS TOKOH IDE, MEMBEBASKAN DARI TRAGEDI DIRI

S. Jai
http://ahmad-sujai.blogspot.com/

“Jadilah tokoh di situ digagas menyerupai tokoh ide, sepasukan pekerja yang memikul beban gagasan di pundak masing-masing. Bahkan tidak jarang tokoh-tokoh itu diperlakukan tidak sebagai layaknya manusia. Memang dia bukan manusia, melainkan cuma sepenggal korban. Tampak sekali pemahamannya perlu bergeser menjadi” bahwa ide lebih penting ketimbang tokoh.”

TULISAN ini tanpa mengurangi rasa hormat kawan-kawan, penikmat, pembaca, pendengar yang turut merayakan karya sastra. Sengaja penulis menggunakan idiom “merayakan” karena yakin sama-sama punya harapan besar dengan bersastra, semoga sanggup mewarnai khazanah negeri yang sering disebut dunia ketiga ini, demi menjadi warga sastra dunia.

Harapan ini bukan omong kosong, bukan impian dan bukan pula tanpa alasan. Apalagi bila dengan penuh kesadaran telah siap gagasan estetis maupun artistik pada setiap karya para pengarang, meskipun menyadari hal ini berarti…

Gigitan Kritis “Penulis Nyamuk”

Bandung Mawardi
http://suaramerdeka.com/

Soe Hok Gie adalah “penulis nyamuk“. Arief Budiman menginformasikan bahwa Hok Gie memiliki kebiasaan tengah malam mengetik di ruang belakang rumah dalam gairah pemikiran dan renungan. Proses menulis itu ditemani atau direcoki oleh nyamuk dan lampu temaram. Keadaan ruang dan antusiasme menulis menjadi bukti heorik Hok Gie.

Nyamuk tidak bisa jadi alasan untuk tidak berpikir dan menulis. Nyamuk untuk orang lain adalah gangguan menyakitkan dan memancing emosi karena dengung dan gigitan. Hok Gie mungkin mengartikan nyamuk sebagai pirit dan kekuatan untuk menghasilkan ulisan menggigit dan menganggu pihak-pihak tertentu karena jadi sasaran kritik pedas dan lugas.

Tulisan-tulisan merek nyamuk dari Hok Gie bisa disimak melalui publikasi buku Catatan Seorang Demonstran, Di Bawah Lentera Merah, Zaman Peralihan, atau Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan. Tulisan-tulisan nyamuk justru mengena saat terpublikasikan melalui media Kompas, Sinar Harapan, Indonesia…

Sumbang Saran Kritik Seni

Baridul Islam Pr
http://www.sinarharapan.co.id/

Membaca kritik sastra yang ditulis Binhad Nurrohmat, Budi Darma, Satmoko Budi Santoso dan Edy AFN yang termuat dalam segmen Seni di Harian Kompas minggu di bulan Mei-Juni 2003 membuat perdebatan sastra dan kritiknya kembali menarik untuk dilakukan. Begitu juga dengan tulisan penyair Ajip Rosidi yang berjudul: ”Hanya Dijadikan Obyek” (Kompas, 29/6/2003). Dari kedua macam kritik sastra dan seni tersebut penulis mencoba menarik dua kesimpulan awal. Kesimpulan pertama, pada karya kritik sastra yang dibuat oleh ke empat penulis di awal menitikberatkan kritiknya pada para pekerja seni (penyair, seniman, sastrawan) di lain sisi berbalik dengan apa yang dilakukan oleh Ajip Rosidi yang mengkritik para intelektual terhadap perlakuannya pada para seniman. Meski Kompas mungkin tidak memaksudkan untuk mem-versus-kan kedua wacana di atas, secara nyata terlihat adanya relasi demikian. Yang satu bertema (perspektif) intelektual menggugat pekerja seni, sat…

Pengantar dalam Menjelajahi Kitab Para Malaikat

Hasnan Bachtiar
http://www.sastra-indonesia.com/

Pengantar dalam menjelajahi Kitab Para Malaikat sebagai suatu karya sastra pada umumnya, adalah hendak mengurai apakah suatu teks berpotensi sebagai kebenaran, kendati bukan merupakan teks keagamaan?

Teks merupakan fenomena yang sedemikian kaya dengan ketakterbatasan makna. Hal ini berlaku bagi teks apapun termasuk teks keagamaan yang berdimensi sakralitas (Northrop Frye, The Great Code: the Bible and Literature). Tetapi pada intinya, teks-teks bahasa sebenarnya adalah sarana untuk mengungkapkan realitas dengan cara tertentu. Kendati demikian, bahasa – termasuk teks bahasa - memiliki fungsi lain selain fungsi umum tersebut, yaitu fungsi komunikatif, yang mengasumsikan adanya hubungan antara pembicara dengan sasaran bicara, dan antara pengirim dan penerima (Roman Jakobson, Linguistics and Poetics: 350).

Menanggapi pengertian tersebut, pada hakikatnya penulis tidak terlalu tergesa dalam menjelajahi ketakterbatasan makna-makna dari ritus-ritus…

Butet Kertaredjasa dan Tanda-tanda Jaman

Rakhmat Giryadi*
http://teaterapakah.blogspot.com/

Dalam konsep drama tragedi terdapat monolog, soliloque, dan aside. Masing-masing memiliki peran dan fungsi yang berbeda-beda. Monolog merupakan perenungan terhadap peristiwa yang sedang menimpa sang tokoh. Dalam drama tragedi misalnya, sang tokoh biasanya berujar sendiri terhadap nasib yang menimpanya. Seperti Hamlet ketika berbicara sendiri setelah mendapat bisikan dari roh bapaknya, yang ternyata dibunuh oleh pamannya.

Dalam drama tragedi, monolog muncul disaat tokoh sedang mengalami krisis. Dalam hal ini sang tokoh berusaha menemukan kembali (discovery) kenyataan-kenyataan yang dia hadapi. Disaat penemuan kembali itulah nasibnya dipertaruhkan (peripetia). Sang tokoh menemukan titik baliknya, apakah akan menuju tragedi atau katarsis, hanya nasiblah yang tahu.

Kemunculan Butet Kertaredjasa, ketika puncak kekuasaan Orde Baru berada dalam krisis adalah sangat tepat. Pada saat itu, kehidupan sosial politik mengalami ketegangan. Dalam strukt…

MENEGUK SEJARAH DAN FALSAFAH

Judul Buku : Bung Sultan
Pengarang : RPA Suryanto Sastroatmodjo
Jenis Buku : Bunga Rampai Esai
Penerbit : Adi Wacana, Juni 2008
Tebal Buku : xxxiv + 230 hlm; 15 x 21 cm
Peresensi : Imamuddin SA.
http://forum-sastra-lamongan.blogspot.com/

Wartawan, penulis, sastrawan, budayawan dan siapa saja yang mengabdikan diri dalam bidang tulis-menulis, semuanya pastilah memunguti batu-batu peristiwa yang berserakan di tepian hidupnya untuk dijadikan konsep dasar karyanya dan sebagai suatu kesaksian kecil dalam sejarah kehidupan umat manusia. Meskipun bersikap kecil, jika batu-batu itu dikumpulkan secara terus-menerus, seseorang akan mampu membuat rumah sejarah, bukit sejarah, bahkan gunung sejarah.

Bung Sultan merupakan sebuah karya yang patut kita selami dan kita teguk setetes demi setetes bening air kesaksian serta pemikiran pengarangnya. Karya ini digurat dari serpihan peristiwa yang tertangkap oleh indrawi pengarangnya. Pengarangnya tidak lain adalah seorang tokoh yang fenomenal yang dimiliki bangsa …

Sejarah Getir Etnis Tionghoa

Judul: Jalan Panjang Menjadi WNI, Catatan Pengalaman dan Tinjau Kritis
Penulis: Chris Verdiansyah
Kata Pengantar: Frans H Winarata
Penerbit: Buku Kompas
Cetakan: Pertama, 2007
Tebal: vii+236 halaman
Peresensi: Bernando J. Sujibto,
http://suaramerdeka.com/

ETNIS Tionghoa selama rezim Orde Baru mengalami tindak diskriminasi di bawah kendali pemerintah. Semua urusan yang berkaitan dengan kepentingan mereka ditutup akasesnya secara terselubung.

Rezim Orde Baru mempertanyakan Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI) yang menyangkut dengan "WNI keturunan" (sebuah istilah ganjil dari zaman Orde Baru) atau "Asli Pribumi dan Nonpribumi" ketika berurusan dengan mereka.

Tindakan dan perlakuan diskriminatif terhadap warga negara Indonesia keturunan Tionghoa merupakan pelanggaran hak asasi manusia oleh negara terhadap warganya sendiri. Diskriminasi dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) oleh Rezim Orde Baru itu marupakan tindakan yang mengarah kepada keriskanan rasial yan…

Kisah Gelap Si Opsir Koppig

Sejarah dan legitimasi kekuasaan bagaikan dua sisi mata uang, selalu hidup berdampingan. Sejarah bisa membuat kekuasaan berdiri setegar batu karang, atau bahkan mampu membuat kekuasaan melempem bak kerupuk kena siram. Selama hampir 30 tahun lebih, sejarah Indonesia, khususnya pada peristiwa G30S 1965 yang kemudian diikuti oleh naiknya Soeharto ke tampuk kekuasaan, diselubungi kabut yang tak tersibakkan.

Judul Buku: Soeharto, Sisi Gelap sejarah Indonesia
Penulis: Asvi Warman Adam
Penerbit: Ombak
Cetakan: Pertama, Maret 2004
Tebal: xix + 204 halaman
Peresensi: Bonnie Triyana
http://suaramerdeka.com/

Entah disengaja atau tidak, yang jelas ketika pemerintah Orde Baru berkuasa, berbagai usaha penyeragaman versi sejarah mengenai peristiwa 65 dilakukan dengan gencar. Partai Komunis Indonesia (PKI) dipersalahkan sepenuhnya atas pembunuhan 6 perwira tinggi dan 1 perwira pertama Angkatan Darat. Pengambinghitaman PKI telah menyebabkan anggota dan simpatisan PKI dikejar-kejar, ditahan tanpa peradilan, da…

Saat Jurnalis Membocorkan Rahasia Keraton

Judul: Bangsawan Zaman Modern
Penulis: Kastoyo Ramelan
Penerbit: Teater Episode Surakarta, Departemen Penerbitan
Cetakan: Pertama, 2006
Tebal: 224 halaman
Peresensi: Triyanto Triwikromo
http://suaramerdeka.com/

Atau jangan-jangan mereka justru melakukan reposisi dan rekonstruksi kebudayaan sehingga bisa manjing ing kahanan, hidup secara kontekstual? Jangan-jangan pula, sebagaimana ungkapan budayawan Darmanto Jatman, mereka itu nitis, sehingga mampu hidup secara bermartabat pada zaman apa pun?

Buku ini dengan sangat gamblang menjawab pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Ia setidaknya bisa memberi tahu publik mengenai perubahan kehidupan keraton dari masa ke masa dalam "Keraton Tidak Membeku" (Bab I). Selain itu Ramelan menyatakan keraton ternyata tidak berhadap-hadapan dengan pemerintah (Bab II). Ini menunjukkan sekalipun pemerintah menjadi representasi dari kehidupan antifeodalisme, keberadaannya tidak dianggap sebagai musuh. Malah dengan gaya humor dan kritis, penulis juga mencoba me…

Televisi, Hiperrealitas, dan Dromologi Politik

Muhammadun A.S
http://newspaper.pikiran-rakyat.com/

Tanggal 24 Agustus selalu diperingati sebagai Hari Televisi Nasional. Perkembangan televisi di tanah air mengalami percepatan luar biasa, khususnya perkembangan dalam wilayah reality show dan laju bisnisnya, lewat berbagai lembaga bisnis dan pesta politik. Sorotan televisi dalam Pemilu 2009 membuktikan, televisi menjadi kekuatan politik sangat krusial untuk mengundang simpati dan mendulang citra dalam perolehan suara. Televisi dan politik menjadi jala komunikasi yang siap "menyergap" para penikmat untuk "tergiur" atas dunia pencitraan yang digebyarkan.

Sebagai lembaga penyiaran audio visual, televisi berperan sangat penting dalam membantu penciptaan bangsa yang maju dan beradab. Berbeda dengan media lainnya seperti koran, televisi hadir lebih lugas dan bisa dinikmati dengan seksama. Sementara koran "terlambat" menampilkan fakta, karena harus melakukan hunting, reportase, editing, serta cetak di kertas. Tele…

Metamoforsis Sepatu Lubang

Denny Mizhar
http://www.sastra-indonesia.com/

Farfa mulai berlatih menari sebelum teman-temannya datang. Diputarnya musik dari ciptaan Mozart. Lincah kaki digerakkan, gemulai tangan dimainkan, menjaga keseimbangan tubuh dan membentuk gerakan-gerakan indah. Gadis-gadis seusianya mulai berdatangan, ada yang bersama orang tuanya, banyak diantar oleh pembantunya; orang yang dijadikan robot olehnya; bekerja sesuai perintah.

Tiba-tiba Karfa terjatuh, tetapi temannya yang menjatuhkan menuduh sebaliknya. Beradu mulut. Semua melihat. Tak ada yang membela. Sepatu lubang Farfa menjadi bahan tertawaan. “Hai, sepatu sudah tidak utuh masih saja kamu pakai. Itu yang membuat kau terpeleset dan jatuhmu menimpaku.” Begitu juga yang lain, semua menghina dan tak ada cela membela.

Farfa pulang. Berniat menjual sepatuhnya. Sampailah pada tukang sepatu yang menerima sepatu bekas untuk dibeli. Harganya tak mahal, kalau dibuat makan mungkin hanya bisa dua hari jika kebiasaan makannya dua kali sehari dipertahankan…

Maling

Putu Wijaya*
http://www.jawapos.com/

Di jalanan yang sudah bertahun-ta­hun saya lalui, ada rumah orang ka­ya. Depan rumahnya ada sebatang pohon kelapa gading. Buahnya terus berlimpahan seperti mau tumpah. Kalau lewat di situ, saya selalu kagum. Tapi juga tak habis pikir. Mengapa kelapa itu tak pernah dijamah. Mungkin pemiliknya terlalu kaya sehingga sudah tidak doyan lagi minum air kelapa. Padahal kalau saya yang punya, tiap hari tidak akan pernah saya biarkan lewat tanpa rujak kelapa muda.

Perasaan saya sama dengan orang-orang lain. Me­reka juga heran. Karena mereka pun tahu, se­tiap bulan puasa, kelapa muda di mana-mana laris. Hanya dengan gula merah dan jeruk nipis, buah itu mengantar ke surga di saat buka. Di­teguk langsung juga sedapnya bukan main. Se­mua minuman keluaran pabrik yang digondeli seabrek bahan pengawet dan zat warna, le­wat. Kelapa memang nomor satu.

***

Setelah berhasil membeli rumah yang saya kon­trak, yang pertama saya lakukan adalah me­nanam pohon kelapa gading. Tida…

Walter Savage Landor (1775-1864)

Nurel Javissyarqi
http://pustakapujangga.com/?p=438

DAUN DEMI DAUN GUGUR
Walter Savage Landor

Daun demi daun gugur, bunga demi bunga,
Disaat dingin, disaat panas: sebarang waktunya.
Hidup-hidup ia berkembang, hidup-hidup berguguran,
Semua disambut bumi, yang beri mereka makan.
Haruskah kita, putranya lebih budiman, kecewa
Kembali kekandungannya, bila hidup henti bernyala?

Walter Savage Landor (30 January 1775 – 17 September 1864), penyair Inggris lahir di Ipsley (Inggris) meninggal di Florence (Itali). Berpendidikan universitas Oxford, muncul dengan himpunan Poems 1795, dan Gebir 1798. Tahun 1808 ikut bertempur di Spanyol melawan Napoleon. Terkenal oleh tragedi Don Julian 1818, sesudahnya di Prancis, berpindah ke Itali, mengarang Imagery Conversation of literary men and statesmen (1824 - 1829), di dalamnya mengemukakan, terpenting pada esai ialah bentuknya. Landor cenderung pada pujangga-pujangga Yunani Purba. Berpindah ke Como (Swiss) lalu ke Prancis, lantas ke Inggris, kembali ke Itali untuk …

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com