Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2008

Menulis Puisi Itu Sangat Mahal

Koran Tempo, 27 Januari 2008

Acep Zamzam Noor pantas berbahagia. Penyair kelahiran Tasikmalaya, Jawa Barat, ini dinobatkan sebagai peraih Khatulistiwa Literary Award 2007 untuk kategori puisi pada 18 Januari lalu. Acep meraih penghargaan itu melalui buku kumpulan puisi Menjadi Penyair Lagi (2007).

Ini penghargaan kedua dalam karier kepenyairan lelaki yang bulan depan berusia 48 tahun ini. Pada 2005 penyair yang tumbuh di lingkungan pesantren di kota kelahirannya ini menerima South East Asian Write Award dari Kerajaan Thailand.

Kemenangan di Khatulistiwa Literary Award membuat kantongnya kian tebal. Ia berhak atas hadiah uang Rp 100 juta. "Lumayan, uang ini menjadi honor setelah 20 tahun menjadi penyair," ucapnya di atas panggung ketika menerima penghargaan itu di Atrium Plaza Senayan, Jakarta.

Acep adalah salah satu penyair Indonesia yang bertahan cukup lama mencurahkan dedikasinya pada perpuisian Indonesia. Menulis puisi sejak sekolah menengah pertama, hingga saat ini ia telah …

PENOLAKAN SAUT SITUMORANG ATAS KHATULISTIWA LITERARY AWARD

During times of universal deceit,
telling the truth becomes a revolutionary act
-George Orwell

Menanggapi beredarnya Long-list Khatulistiwa Literary Award (KLA) 2008 yang memasukkan buku saya "otobiografi" ([sic] Yogyakarta, November 2007) sebagai salah satu 10 besar kategori Puisi, dengan ini saya nyatakan menolak pengikutsertaan buku saya tersebut. Adapun alasan saya adalah sebagai berikut :

Sejak awal saya menganggap keberadaan KLA tidak layak dan tidak representatif bagi kesusasteraan Indonesia karena dasar dan sistem penilaian karya tidak pernah jelas, inkonsisten, improvisasi, dan tidak profesional.

Beberapa cacat fatal dapat disebutkan:

a. Panitia maupun juri melanggar aturan yang mereka buat sendiri. Contoh: Menangnya buku puisi Goenawan Mohamad, "Sajak-sajak Lengkap", pada KLA perdana, merupakan pelanggaran terang-terangan atas aturan yang sudah diumumkan panitia sebelumnya bahwa karya kompilasi (yang sudah pernah diterbitkan terdahulu) tidak bisa diikutkan dala…

Batu Domino yang Beradu

Jawa Pos, 3 Juli 2005
Marhalim Zaini

Lebih baik jadi kuli di negeri sendiri.
Setelah segalanya seperti menyusut ke dalam gelap, dan menghadirkan bintik-bintik cahaya lampu, serupa ratusan bintang yang terapung di sepanjang pelabuhan, di sinilah surga mereka. Di mana lagi, selain kedai kopi tempat mereka kembali, tempat (seolah) mereka menemukan sebuah keluarga. Surga dapat dibangun di mana saja, dan dihuni oleh siapa saja, pikir mereka. Keluarga adalah surga. Keduanya ada saat kita membuatnya ada. Dan mereka selalu merasa menemukan keduanya. Tak ada yang benar-benar merasa kehilangan, saat batu-batu domino mulai beradu. Kehilangan adalah cerita lain, yang sengaja diasingkan. Ia tak boleh hadir, saat kesulitan-kesulitan hidup bagai mendesak dalam setiap detik waktu yang berjalan setiap hari. Mereka kuli. Kesadaran sebagai kuli harus ditanamkan dalam-dalam, supaya tak berkesempatan perasaan-perasaan busuk singgah, dan menggoda mereka untuk melakukan hal-hal yang buruk. Seorang kuli, bukan …

INTRIK PENYAIR DAN KARYANYA

(Ini hasil perasaan saja, andai saya seorang penyair. Dan jika benar istilah perasaan itu, awal daripada ilmu pengetahuan).
Nurel Javissyarqi*

Apa yang kalian impikan pada tinggi kepenyairan? (Goethe).
Puisi ialah masa-masa mati. Terhenti atas kekakuan dirinya yang telah terselubung kelenturan. Ia tidak bisa bergerak terlampau jauh, ketika “kata-kata” sudah mewakili kehadirannya. Maka penciptaan puisi, sejenis latihan bunuh diri berkali-kali.

Siapa yang mati di sana? Penciptanya, dipermalukan kejujurannya. Meski berselimutkan kerahasiaan, tetaplah ada keinginan untuk diketahui, difahami. Mungkin ini sisi lain kebinalan puisi sebelum mati, sedurung di kubur dalam keranda kata-kata.

Saya tidak hendak menghakimi. Ini realitas keindahan terbatas di muka bumi, sebuah musim bunga terhilangkan lewat gugurnya dedaunan atas musim berubah. Matahari yang kita nikmati, menciptakan hayalan, yang keinginannya terus bertambah dari dorongan naluri, dari kedalaman maksud jiwa.

Tapi siapa yang sanggup memeti…

SUAP

dijumput dari Jawa Pos, 21 Sep 2008
Putu Wijaya

Seorang tamu datang ke rumah saya. Tanpa mengenalkan diri, dia menyatakan keinginannya untuk menyuap. Dia minta agar di dalam lomba lukis internasional, peserta yang mewakili daerahnya, dimenangkan.

''Seniman yang mewakili kawasan kami itu sangat berbakat,'' katanya memuji, ''keluarganya turun-temurun adalah pelukis kebanggaan wilayah kami. Kakeknya dulu pelukis kerajaan yang melukis semua anggota keluarga raja. Sekarang dia bekerja sebagai opas di kantor gubernuran, tetapi pekerjaan utamanya melukis. Kalau dia menang, seluruh dunia akan menolehkan matanya ke tempat kami yang sedang mengalami musibah kelaparan dan kemiskinan, karena pusat lebih sibuk mengurus soal-soal politik daripada soal-soal kesejahteraan. Dua juta orang yang terancam kebutaan, TBC, mati muda, akan terselamatkan. Saya harap Anda sebagai manusia yang masih memiliki rasa belas kasihan kepada sesama, memahami amanat ini. Ini adalah perjuangan hak az…

Sajak-Sajak Mashuri

LINGKAR

Di lingkar pinggulmu, masa lalu tersimpan dan jemu; Ia tak lebih sebentang padang yang simpan jejak matahari
Bertahun, juga gurun yang tak rikuh oleh peluk embun; Jika waktu dan jam berlesatan pada malam; mimpi tenggelam; Jahanammu bangkit serupa adonan timah, dituang ke ceruk nampan ---bekukan remang ke tiang gantungan
Kerna di pinggulmu, serdadu ‘lah tumpas; Batu-batu terhela ke tebing cadas
: tempat segala yang berumah menepis igauan-igauan musim
Tubuh waktumu pun melepas baju hangat kutukan; Lalu berlari menembus gelap, dengan tarian-tarian liar
Dzakar yang dibakar di tungku farji, dan selalu ditimpuk angin kini, yang bergoyang, bergoyang
Di sepanjang tanah tandusmu yang risau oleh pukau hujan…

Surabaya, 2008



LAND OF ID

gunung-gunung mengapung di mataku
kawah, renjana
biru, tak bertua
segalanya meruang ke retina
lalu lapuk bersama dunia
dunia atas-bawah, dunia tengah
kesementaraan 'lah terbanting ke denah
tak beranting ---keabadian menjadi risalah
menjadi
abadi, seperti lukisan-lukisan l…

REVOLUSI SUNYI SANG PENYAIR; IQBAL

Nurel Javissyarqi*
http://pustakapujangga.com/?p=70

Ah, betapa gembira mereka yang hendak memuja apiku!
Tapi aku tak menghendaki telinga zaman sekarang
Akulah suara penyair dari dunia masa depan
Karena zamanku tak pernah memahami maksudku (Iqbal, Rahasia Pribadi).

Di sana, saya melihat betapa malang seorang penyair yang seolah gagal menyuarakan hati nuraninya, dalam kancah usianya mereguk masa melahirkan karya-karya. Sejenis keputusasaan yang menyimpan harapan, entah mimpi bolong atau bergelayutnya awan yang enggan menurunkan hujan. Kala kehidupan membutuhkan seteguk tirta pengusir dahaga di tengah kembaranya.

Tampak jelas penyair itu takkan bisa merangkai kata-kata, memuntahkan isi jiwanya ke dalam lelembaran karya, selain setelah menyetubuhi pengalaman hayatnya. Kesendirianya bukan kedahagaan tanpa guna, serupa pengharapan yang ngambang. Namun sungguh perjuangan itu melahirkannya, meski nampak tidak seberapa, ketika dirinya masih menghirup udara -nyawa.

Sang penyair menuangkan kata-kata, me…

Parafrase Kesedihan

A Qorib Hidayatullah

Beragam dongeng atau pun cerita kesedihan yang dipendarkan dalam gerak avonturus hidup ini. Kisah kesedihan dalam hidup layak ditali-temalikan agar proses hidup tidak sombong. Manusia butuh hidup bijak di tengah arus dangkal pemaknaan hidup hedonis. Semisal trah Bohemian di negeri Paman Sam, karena telah teken konsistensi berhidupkan sedih, mereka memarkir dirinya tinggal di pedalaman di negara adidaya (sub-urban) itu. Mereka enggan hidup nyaman dengan kesibukan permanennya yang melulu menghamba pada rotasi mesin berdaya konsumerisme. Mereka membaktikan hidup di desa-desa kumuh dengan tetap menggawangi idealisme berkatologisasi pengetahuan, yaitu memilih hidup keranjingan membaca.

Berbeda dari itu, kisah tokoh Lintang dalam novel Laskar Pelangi di mana Andrea Hirata sebagai arsiteknya, malah mempraktikkan kesengsaran akut demi sebuah arung pendidikan. Lintang bersama sembilan kawannya yang menamakan dirinya dengan sebutan Laskar Pelangi itu pergi ke sekolah berbekal…

Sajak Mashuri

Demi Waktu

1

Petir mengalir di bibirku, lalu kulafal satu-satu
kupanggil ibu; tanah-tanah rekah yang rindukan rindu
hujan di seberang yang menggigil
dengan tangis temaram, gerimis memeram
kukecup ketiadaan dan waktu
patah, bersitahan di udara
jarum jam yang berhenti
di ujung lidah
di atas kandil-kandil padam
dan kuyup wajah sang kala
dibasuh liur dan ludah
menghuni lahat, semakin purba
kusebut waktu, waktuku



2

di awal sura, ketika terakota masih mentah, merah
dan tanah masih tertinggal di muara
ada purwa yang dingin
mengalir dari garba
beranak sungai, mengalir pantai
kekalkan cinta pada nestapa
: dunia
lalu tinggalkan liang senggama
dengan keperihan pendosa
dan rumah terbangun dari senyap
pipih lengan menopang pilar
hitam
kekokohan bangkit dari malam
dan kokok ayam jantan membuktikan
fajar
masih menyesalkan sebuah kepulangan
dan pagi tergelar dengan hambar
lihat, sebuah kota terbangun dari kediaman
dan tangis
tertahan



3

seruling gembala turun ke rerumput
menjemput
bunyi
suara gelombang terdengar sunyi
angin berpaling ke luba…

Sajak-Sajak Mashuri

IQRA’

Laut dengan debur asinnya, dan garam
bukan tempat logam untuk berbekam
seribu pemusnahan akan pecah
seperti kulit dikoyak tombak
lalu luka memeta, memerihkan sengketa
dalam diri, seperti nuh tentang anaknya
lalu perahu berlabuh
dengan rasa sesal

tapi aku berpegang pada kepastian
seperti kematian yang mengutukku
untuk selalu menanti
dan penyesalan, hanya bayang-bayang
layar, dengan warna kusam
sebab nubuat telah kubaca dari gurat
telapak tangan, pasir hitam
dan temali di pantai

dan laut dengan wajah pendulumnya
akan terus berombak
mengaji takdir, dari rangakaian buih
ronce-ronce kengangaan
dan jarak
untuk saling menepi

lalu kusundalkan kehendakku
menyebut nama-nama
seperti seorang lelaki di sebuah gua
memasang jaring laba-laba
sebagai amsal
bahwa dalam kosong, dan tampak kosong
masih juga berjiwa

mungkin logam, harus memilih
sebuah ritus yang tahu diri,
apakah hanya loyang, besi atau emas
lalu melebur dalam ketaksaan;
ketaksadaran
yang dihamparkan lazuardi

dan nuh, juga diriku
tidak pernah menyesalkan sebuah nujum
se…

Sastra-Indonesia.com

PUstakapuJAngga.com