Kamis, 21 Agustus 2008

Retorika Revolusi Fidel Castro

Judul Buku : Fidel Castro Revolusi Sampai Mati
Penulis : Ferdinand Zaviera
Penerbit : GARASI
Cetakan : I, Februari 2007
Tebal : 180 hlm
Peresensi : A. Qorib Hidayatullah*
http://indonimut.blogspot.com/

Akhir-akhir ini, alam perwacanaan aktivis kerap kali dijejali oleh alur wacana para penguasa kiri. Tak jarang kita temui buku-buku berseliweran memuat ulasan-ulasan latar sejarah para pemimpin anti Amerika. Misalkan, buku yang menyibak Fidel Castro (Kuba), Mahmoud Ahmadinejad (Iran), Evo Morales (Bolivia), dan Hugo Chavez (Venezuela). Tentunya, –buku-buku tersebut dibikin– sengaja diperuntukkan ke khalayak guna dikupas lalu diperbincangkan. Apabila kita membacanya, sedikit banyak hikmah dapat kita raup, misalnya sikap berani, semangat revolusi, hingga bagaimana model pemimpin “diktator” yang menentang kekuasaan hegemonik dalam konstelasi perpolitikan dunia.

Dibuku ini, Fidel Castro Revolusi Sampai Mati melukiskan slogan-slogan kukuh altruistik yang dipertahankan oleh pemimpin Kuba sendiri. Seperti, “Partia o muerte, venceremos (Tanah air atau mati, demi kemenangan). Jika lafad tersebut dimaknai, maka tuntutan bergerak dinamis tanpa pantang mundur atau menyerah adalah pilihan mutlak. Kata-kata demikian, memang sengaja diletupkan sebagai kaidah komunal yang siap dijadikan pelatuk semangat perjuangan. Kegunaannya, yaitu agar diri dan bangsa ini tidak dijajah terus menerus oleh bangsa lain, baik disektor ekonomi, ideologi, hingga sisi ketinggian derajat humanitas. Seakan kalau begitu, kompleksitas makna kemerdekaan dapat teraih, yaitu kebebasan totalitas dari segala bentuk intervensi apapun.

Meski demikian, cita-cita pewujudan revolusi tak seringan membalikkan telapak tangan saja. Bejibun jalan terjal penuh liku yang harus dilalui, hingga mempertaruhkan nyawa sekalipun adalah awal semangat perjuangan universal. Sosok Fidel Castro, merupakan sosok yang lahir dari rahim kesadaran, ia sebagai penguasa Kuba sejak tahun 1959 harus mengawali Revolutionary Directorate atau gerakan 26 Juli guna meruntuhkan kekuasaan pemerintah saat itu yang dipimpin Fulgencio Batista. Pada tahun-tahun itulah, ia menggencarkan transfomasi di Kuba. Revolusi perdananya adalah mengganti ideologi negara menjadi ideologi komunis pertama didaratan Eropa.

Pemilik nama lengkap Fidel Alejandro Castro Ruz, yang akrab dipanggil Castro lahir pada tanggal 13 Agustus 1926 di Biran, Provinsi Holguin, Kuba. Castro kali awal tertarik untuk nimbrung didunia politik semenjak ia masih berstatus pelajar. Dimana, kala itu dia selalu saja aktif didunia pergerakan dan cakrawala organisasi. Sikap nasionalisme yang tertancap kukuh dalam diri hingga kritiknya terhadap Batista dan perusahaan Amerika Serikat serta pengaruh politik di Kuba, telah bergumul hingga menyemai diperasaan politiknya yang kemudian diterapkan pada sikap-sikap politik selanjutnya.

Dimata lawan-lawannya –baik didalam maupun diluar negeri– Castro populer sebagai sosok penguasa bergaya sang diktator, menyebabkan ia sangat dibenci dan wajib dienyahkan. Pelbagai ikhtiar pun mulai diluncurkan kepadanya hingga ia benar-benar lengser sebagai penguasa Kuba. Baik lewat jalur politik, ideologi, ekonomi, sosial, bahkan upaya pembunuhan pun dilancarkan demi berakhirnya etape kediktatoran Castro. Kendati pun, hingga kini kain bendera kejayaan Castro masih berkibar tak kunjung menampakkan lusuh sedikit pun. Castro tetap menjadi sesosok penguasa diktator karismatik-komunis yang masih bertahan didunia dengan masa pemerintahan yang paling lama.

Revolusi Castro di Kuba, sungguh-sungguh dilakukannya secara totalitas. Ia men-sweeping besar-besaran terhadap semua kalangan –baik kalangan dalam maupun luar–yang jelas dipandang berhaluan dengan dirinya. Berbagai kajian melaporkan bahwa ribuan lawan politik terbunuh selama kepemimpinan Castro yang sangat panjang tersebut. Sebagian rakyat Kuba yang dikasih label “kontrarevolusi”, “fasis”, atau “agen CIA” didepak menjadi “pesakitan” yang harus siap temani kesunyian di Barak-barak. Mereka dipenjara dalam kondisi yang sangat mengenaskan tanpa adanya proses pengadilan, bahkan ada sebagian mereka dieksekusi secepat mungkin.

Hal itulah yang menjadi asas argumentasi Amerika untuk mengatakan bahwa Castro dan Kuba adalah pelanggar HAM berat. Yaitu, negara yang tak sealur dengan kondisi dunia yang sudah berubah. Amerika kerapkali mencap Kuba sebagai negara yang tidak demokratis. Bahkan, AS menganggap bahwa Kuba dan Castro sebagai “poros setan” (axis of evil). Maka dari itu, Castro sebagai penjahat HAM dan juga seorang diktator harus digulingkan.

Sebenarnya, kalau membincangkan tentang pelanggaran HAM berat, Amerikalah justru yang bijak disemat sebagai negara pelanggar HAM berat dunia. Acap kita dengar bersama, apa yang sering didengungkan keras oleh Amerika sendiri, tak lain adalah proyek raksasa demokrasi. Akan tetapi, mengingat pepatah: “menelan air liurnya sendiri”, adagium ini tentu sangat pas dibidikkan ke tubuh Amerika. Masih segar diingatan kita, invasi, juga agresi militer AS ke Afganistan, dan Irak, serta Lebanon, yang tak sedikit telah menelan nyawa. Bukankah praktik AS itu, salah satu bentuk pelanggaran HAM berat didunia?

Seturut merujuk pada presiden Venezuela, Hugo Chavez sesama teman Fidel Castro, menanggapi atas karakter Amerika yang terus menerus menyerang negara-negara yang tak sehaluan dengannya. Chavez berkata keras, “Mereka (AS) mungkin sudah gila, ya? Setiap hari terus menyerang kami. Bertahun-tahun mereka mencoba mengisolasi dan memblokade Venezuela, tetapi mereka gagal. Dan, mereka akan terus gagal karena tindakan mereka salah!”

Kalaupun ditelisik, hakikat keberhasilan proyek demokrasi, yaitu memberi kesempatan negara-negara lain berkembang dan menunjukkan kekreatifannya, baik dibidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya sekalipun. Ironisnya, ruh demokrasi itu dilanggar sendiri oleh negara adikuasa yang mengaku paling demokratis didunia, yaitu Amerika. Ibarat pepatah lain, “Gajah didepan mata tampak, sementara semut diseberang lautan tak tampak.” Inilah kesalahan fatal Amerika, yang kian menggerogoti fondasi HAM dan demokrasi.

Dari bentuk cekamnya hegemoni AS itu, menyulut pihak Castro terus mengepakkan sayap perlawanan tak kenal lelah terhadapnya. Bahkan, wakil presiden Kuba, Carlos Lage, dalam pidatonya di KTT Tahunan Gerakan Non-Blok mengatakan, dunia sudah semakin tidak adil saat satu negara mendominasi dengan memberlakukan tekanan politik dan ekonomi terhadap negara lain.

Meski kini, Castro mulai menuai usia senja, yaitu menginjak umur 80 tahun, ia belum juga menampakkan kemanutan, dan ketertundukannya dibawah AS. Pada ulang tahunnya yang ke-80 jatuh ditanggal 13 Agustus 2006, pemimpin partai komunis ini mendapat sambutan meriah dari warga Kuba dan beberapa pemimpin negara sahabat. Ucapan selamat tahun pun dan kado istimewa datang dari Evo Morales, presiden Bolivia, dan Hugo Chavez, presiden Venezuela. Kedekatan dan jalinan persahabatan oleh kedua pemimpin negara di kawasan Amerika Latin tersebut terhadap Fidel Castro, menjadi simbol adanya kebersamaan untuk selalu menentang segala hegemoni Amerika Serikat dalam kancah perpolitikan dunia.

Kehadiran buku ini, sangat berfaedah dan membantu bagi siapapun, para aktivis gerakan guna dijadikan pelatuk berevolusi. Inilah kira-kira pesan dari semangat revolusi totalitas, yang perlu dipegang erat-erat oleh aktivis di Indonesia. Realitas sekarang, para aktivis gerakan ditengarai mandul bersuara kritis, entah apa yang membekap mereka sampai enggan berpayung semangat perubahan. Krisis kritis aktivis kini, memerlukan sosok aktivis pelopor guna menggugah keterlelapan mereka. Padahal, mengingat semangat awal perubahan adalah Revolusi Sampai Mati.

Tidak ada komentar:

Label

A Rodhi Murtadho A. Aziz Masyhuri A. Qorib Hidayatullah A. Zakky Zulhazmi A.J. Susmana A.S. Laksana Aa Maulana Abdi Purnomo Abdul Azis Sukarno Abdul Aziz Rasjid Abdul Hadi W.M. Abdul Kadir Ibrahim Abdul Lathief Abdul Wachid B.S. Abdurrahman Wahid Abidah El Khalieqy Acep Zamzam Noor Ach. Sulaiman Achdiar Redy Setiawan Adhitia Armitrianto Adhitya Ramadhan Adi Marsiela Adi Prasetyo Afrizal Malna Ags. Arya Dipayana Aguk Irawan MN Agunghima Agus B. Harianto Agus Buchori Agus M. Irkham Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sri Danardana Agus Sulton Agus Wibowo Aguslia Hidayah Ahda Imran Ahmad Fatoni Ahmad Hasan MS Ahmad Ikhwan Susilo Ahmad Kekal Hamdani Ahmad Khotim Muzakka Ahmad Rafiq Ahmad Sahal Ahmad Syubbanuddin Alwy Ahmad Yulden Erwin Ahmad Zaini Ahmadun Yosi Herfanda Ajip Rosidi Akhiriyati Sundari Akhmad Sekhu Akmal Nasery Basral Alex R. Nainggolan Ali Ibnu Anwar Ali Murtadho Alia Swastika Alunk S Tohank Amanda Stevi Amien Kamil Amien Wangsitalaja Anes Prabu Sadjarwo Anindita S Thayf Aning Ayu Kusuma Anjrah Lelono Broto Anton Kurnia Anton Suparyanto Anugrah Gio Pratama Anung Wendyartaka Aprinus Salam Ardi Bramantyo Arie MP Tamba Arief Junianto Arif Bagus Prasetyo Aris Setiawan Arman AZ Arswendo Atmowiloto Arti Bumi Intaran AS Sumbawi Asarpin Asep Dudinov Ar Asep Sambodja Asvi Warman Adam Awalludin GD Mualif Ayung Notonegoro Bagja Hidayat Balada Bale Aksara Balok Sf Bambang Kariyawan Ys Bambang Kempling Bandung Mawardi Baridul Islam Pr Bayu Agustari Adha Beni Setia Benny Arnas Benny Benke Berita Berita Utama Bernando J. Sujibto Berthold Damshauser Binhad Nurrohmat Boni Dwi Pramudyanto Bonnie Triyana Boy Mihaballo Bre Redana Brunel University London Budi Darma Budi Hutasuhut Budi P. Hatees Budiman Sudjatmiko Bulqia Mas’ud Bung Tomo Burhanuddin Bella Cak Kandar Catatan Cerbung Cerpen Chairil Anwar Chairul Abshar Chamim Kohari Chandra Johan Chavchay Syaifullah Cover Buku Cucuk Espe D. Dudu AR D. Kemalawati D. Zawawi Imron Dadang Kusnandar Dahono Fitrianto Dahta Gautama Damhuri Muhammad Dami N. Toda Damiri Mahmud Danarto Daniel Paranamesa Darju Prasetya Darmanto Jatman David Krisna Alka Deddy Arsya Dedi Muhtadi Dedy Tri Riyadi Deni Andriana Denny JA Denny Mizhar Deny Tri Aryanti Dewi Rina Cahyani Dian Dian Hartati Dian Sukarno Dina Oktaviani Dinas Perpustakaan Daerah Lamongan Dino Umahuk Djadjat Sudradjat Djoko Pitono Djoko Saryono Dorothea Rosa Herliany Dwi Cipta Dwi Fitria Dwi Pranoto Dwi S. Wibowo Dwi Wiyana Dwicipta E. Syahputra Ebiet G. Ade Eddy Flo Fernando Edi Sembiring Edy Firmansyah Eep Saefulloh Fatah Eka Budianta Eka Fendri Putra Eka Kurniawan Ekky Siwabessy Eko Darmoko Elnisya Mahendra Emha Ainun Nadjib Emil WE Endah Wahyuningsih Endhiq Anang P Erwin Y. Salim Esai Esha Tegar Putra Evan Ys Evi Idawati F Rahardi Fahmi Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Faisal Kamandobat Faiz Manshur Fajar Kurnianto Fajar Setiawan Roekminto Fakhrunnas MA Jabbar Farid Gaban Fathan Mubarak Fathurrahman Karyadi Fatkhul Anas Fazar Muhardi Febby Fortinella Rusmoyo Felik K. Nesi Festival Sastra Gresik Fikri. MS Fitri Yani Frans Ekodhanto Frans Sartono Franz Kafka Fredric Jameson Friedrich Nietzsche Fuad Anshori Fuska Sani Evani G30S/PKI Gampang Prawoto Ganug Nugroho Adi Geger Riyanto Gerakan Surah Buku (GSB) Gerson Poyk Gibb Gilang Abdul Aziz Ging Ginanjar Gita Pratama Goenawan Mohamad Grathia Pitaloka Gugun El-Guyanie Gunoto Saparie Gusti Eka H.B. Jassin Hadi Napster Hadriani Pudjiarti Halim H.D. Hamdy Salad Han Gagas Handoko Adinugroho Happy Ied Mubarak Hardi Hamzah Harfiyah Widiawati Hari Puisi Indonesia (HPI) Hari Santoso Harie Insani Putra Haris del Hakim Haris Priyatna Hary B Kori’un Hasan Junus Hasif Amini Hasnan Bachtiar Hasta Indriyana Helmi Y Haska Helwatin Najwa Hendra Sugiantoro Hendri R.H Hendry CH Bangun Henry Ismono Hepi Andi Bastoni Heri KLM Heri Latief Herie Purwanto Herman Rn Heru CN Heru Joni Putra Hudan Hidayat Hudan Nur I Nyoman Darma Putra I Nyoman Suaka I Nyoman Tingkat I Tito Sianipar Ibnu Wahyudi Icha Rastika Idha Saraswati Ignas Kleden Ignatius Haryanto Ilenk Rembulan Ilham Q Moehiddin Ilham Yusardi Imam Muhtarom Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Imron Rosyid Imron Tohari Indira Permanasari Indra Intisa Indra Tjahyadi Indra Tranggono Irfan Budiman Ismi Wahid Istiqamatunnisak Iwan Komindo Iwan Kurniawan Iwan Nurdaya Djafar Iyut FItra Izzatul Jannah J Anto J.S. Badudu Jafar M. Sidik Jamal D Rahman Jamal T. Suryanata Jamil Massa Janual Aidi Januardi Husin Javed Paul Syatha Jefri al Malay JJ Kusni JJ Rizal Jo Batara Surya Jodhi Yudono Johan Khoirul Zaman Joko Pinurbo Joko Sandur Joni Ariadinata Joss Wibisono Jual Buku Paket Hemat Judyane Koz Jusuf AN Karkono Kasnadi Katrin Bandel Kedai Kopi Sastra Kedung Darma Romansha Ken Rahatmi Khairul Amin Khairul Mufid Jr Khoshshol Fairuz Kirana Kejora Koh Young Hun Komang Ira Puspitaningsih Komunitas Deo Gratias Kostela (Komunitas Sastra Teater Lamongan) Kritik Sastra Kurniawan Kurniawan Junaedhie Lan Fang Lathifa Akmaliyah Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lela Siti Nurlaila Lidia Mayangsari Lie Charlie Liestyo Ambarwati Khohar Liza Wahyuninto Lukas Adi Prasetyo Luky Setyarini Lutfi Mardiansyah M Fadjroel Rachman M. Arman A.Z M. Arwan Hamidi M. Faizi M. Lubabun Ni’am Asshibbamal S M. Mustafied M. Nahdiansyah Abdi M. Shoim Anwar M. Taufan Musonip M. Yoesoef M.D. Atmaja Mahdi Idris Mahfud Ikhwan Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Mainteater Bandung Maman S. Mahayana Manneke Budiman Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria Bo Niok Mario F. Lawi Mark Hanusz Marsudi Fitro Wibowo Martin Aleida Martin Suryajaya Marwanto Maryati Mashuri Matdon Matroni A. el-Moezany Maya Mustika K. Membongkar Mitos Kesusastraan Indonesia Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri Mezra E. Pellondou MG. Sungatno Mh Zaelani Tammaka Mihar Harahap Mila Novita Misbahus Surur Muhajir Arrosyid Muhammad Al-Fayyadl Muhammad Ali Fakih Muhammad Amin Muhammad Antakusuma Muhammad Iqbal Muhammad Muhibbuddin Muhammad Nanda Fauzan Muhammad Rain Muhammad Yasir Muhammad Zuriat Fadil Muhammadun A.S Mulyadi J. Amalik Munawir Aziz Murparsaulian Musdalifah Fachri Musfi Efrizal Mustafa Ismail Mustofa W. Hasyim N. Syamsuddin CH. Haesy Naskah Teater Nazaruddin Azhar Nelson Alwi Nenden Lilis A Neni Nureani Ni Putu Rastiti Nirwan Dewanto Nita Zakiyah Noor H. Dee Noval Jubbek Novel Nur Faizah Nur Syam Nur Wahida Idris Nurani Soyomukti Nurdin Kalim Nurel Javissyarqi Nurrudien Asyhadie Nurul Anam Nurul Hadi Koclok Nurur Rokhmah Bintari Nuryana Asmaudi Odi Shalahuddin Oei Hiem Hwie Okky Madasari Okta Adetya Olivia Kristina Sinaga Otto Sukatno CR Oyos Saroso HN Pablo Neruda Pamusuk Eneste Pandu Radea Parakitri Parulian Scott L. Tobing PDS H.B. Jassin Pengantar Buku Kritik Sastra Pepih Nugraha Pesan Al Quran untuk Sastrawan Petrik Matanasi Pipiet Senja Pitoyo Boedi Setiawan Ponorogo Pramoedya Ananta Toer Pringadi Abdi Surya Prof Dr Faisal Ismail MA Prosa Puisi PuJa Puji Santosa Pungkit Wijaya PUstaka puJAngga Putri Utami Putu Setia Putu Wijaya R. Toto Sugiharto Radhar Panca Dahana Ragil Supriyatno Samid Rahmat Sudirman Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Ramadhan Batubara Ramadhan Pohan Rameli Agam Ramon Damora Ranang Aji SP Ratih Kumala Ratna Ajeng Tejomukti Ratu Selvi Agnesia Raudal Tanjung Banua Reko Alum Reny Sri Ayu Resensi Revolusi RF. Dhonna Riadi Ngasiran Ribut Wijoto Rinto Andriono Riris K. Toha-Sarumpaet Risang Anom Pujayanto Robin Dos Santos Soares Rodli TL Rofiqi Hasan Rosdiansyah Rukardi S Yoga S. Jai S. Satya Dharma S.I. Poeradisastra S.W. Teofani Sabiq Carebesth Sabpri Piliang Sabrank Suparno Sahaya Santayana Saifur Rohman Sainul Hermawan Sajak Sal Murgiyanto Salamet Wahedi Salman Rusydie Anwar Salyaputra Samsudin Adlawi Sandipras Sanggar Pasir Sapardi Djoko Damono Sarabunis Mubarok Saroni Asikin Sartika Dian Nuraini Sastra Sastra Perlawanan Sastri Sunarti Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Sekolah Literasi Gratis (SLG) Sekolah Literasi Gratis (SLG) STKIP Ponorogo Seno Gumira Ajidarma Seno Joko Suyono Sergi Sutanto Shafwan Hadi Umry Shiny.ane el’poesya Sholihul Huda Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sita Planasari A Siti Irni Nidya Nurfitri Siti Rutmawati Siti Sa’adah Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sjifa Amori Sofian Dwi Sofyan RH. Zaid Soni Farid Maulana Sony Prasetyotomo Sosiawan Leak Sri Wintala Achmad St Sularto Sudarmoko Sulaiman Tripa Sultan Yohana Suminto A. Sayuti Sunaryono Basuki Ks Sungatno Sunlie Thomas Alexander Sunu Wasono Sunudyantoro Suroto Surya Lesmana Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutan Takdir Alisjahbana Sutardi Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Suwardi Endraswara Syaiful Amin Syarif Hidayat Santoso Syarifudin Syifa Amori Syifa Aulia Tajuddin Noor Ganie Tantri Pranashinta Tanzil Hernadi Taufik Ikram Jamil Taufiq Wr. Hidayat Teguh Winarsho AS Tengsoe Tjahjono Th. Sumartana Theo Uheng Koban Uer Theresia Purbandini Thowaf Zuharon Tien Rostini Titian Sandhyati Tjahjono Widarmanto Tjahjono Widijanto Tjoet Nyak Dhien Toef Jaeger Toko Buku Murah PUstaka puJAngga Lamongan Tri Wahono Triyanto Triwikromo Tu-ngang Iskandar Tulus Wijanarko Udin Badruddin Udo Z. Karzi Umar Fauzi Umbu Landu Paranggi Umi Laila Sari Umi Lestari Universitas Indonesia Untung Wahyudi Virdika Rizky Utama Vyan Taswirul Afkar W.S. Rendra Wahyu Prasetya Wahyudi Akmaliah Muhammad Wawan Eko Yulianto Wawancara Welly Adi Tirta Widi Wastuti Wiji Thukul Wisnu Kisawa Wiwik Widayaningtias Y. Thendra BP Yona Primadesi Yosephine Maryati Yosi M Giri Yudhis M. Burhanuddin Yulizar Fadli Yurnaldi Yusri Fajar Yuyuk Sugarman Zainal Arifin Thoha Zaki Zubaidi Zamakhsyari Abrar Zawawi Se Zehan Zareez Zulkarnain Zubairi